Mengenal Sosiopat: Ciri, Faktor Risiko, dan Penjelasan Klinis Antisocial Personality Disorder
Sosiopat bukan sekadar label sosial. Kenali gangguan kepribadian antisosial berdasarkan psikologi klinis dan faktor biologis-psikososial.-getty images-
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Istilah sosiopat kerap muncul dalam percakapan sehari-hari, media sosial, hingga tayangan hiburan, terutama ketika seseorang menunjukkan perilaku manipulatif, impulsif, atau tampak “dingin” secara emosional. Tak jarang, label ini digunakan secara serampangan untuk menggambarkan individu yang sulit dipahami atau dianggap merugikan orang lain.
Namun, dalam ranah psikologi klinis, sosiopat bukanlah sekadar cap sosial. Istilah ini merujuk pada individu yang memenuhi kriteria Antisocial Personality Disorder (ASPD). Sebuah gangguan kepribadian yang kompleks, menetap, dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, serta berperilaku terhadap lingkungan sosialnya.
Sosiopat dalam Perspektif psikologi klinis
ASPD ditandai oleh pola perilaku yang konsisten mengabaikan norma sosial, hak orang lain, serta minimnya rasa empati dan penyesalan. Individu dengan gangguan ini sering kali melanggar aturan, bersikap manipulatif, dan tidak merasa bersalah meskipun tindakannya menimbulkan kerugian bagi orang lain.
BACA JUGA:Atasi Masalah Kesehatan Mental, Wabup Malang Dukung Inisiasi 'Rumah Curhat Masyarakat'
Meski demikian, penting dipahami bahwa tidak semua orang yang berperilaku egois atau impulsif dapat langsung disebut sosiopat. Diagnosis ASPD hanya dapat ditegakkan melalui evaluasi menyeluruh oleh tenaga profesional, seperti psikolog klinis atau psikiater, dengan mempertimbangkan riwayat perilaku jangka panjang dan konteks kehidupan individu.
Kehidupan Sosial yang Tampak Normal
Berbeda dengan anggapan umum, sosiopat tidak selalu hidup terisolasi. Banyak dari mereka mampu berfungsi secara sosial, memiliki pekerjaan, bahkan terlihat karismatik dan menawan di awal perkenalan. Kemampuan berkomunikasi yang baik sering kali membuat mereka mudah mendapatkan kepercayaan orang lain.
Namun, di balik pesona tersebut, hubungan yang dibangun cenderung rapuh dan penuh dinamika tidak sehat. Relasi sering dimanfaatkan sebagai sarana mencapai tujuan pribadi. Nilai benar atau salah bukan menjadi kompas utama, melainkan kepentingan diri sendiri dan dorongan sesaat.
BACA JUGA:9 Hal Penting Doomscrolling: Kebiasaan Scroll Tanpa Henti yang Menggerus Kesehatan Mental Gen Z
Faktor Risiko di Balik Terbentuknya Sosiopat
Hingga kini, penyebab pasti munculnya ASPD belum dapat ditentukan secara tunggal. Para ahli sepakat bahwa gangguan ini berkembang melalui kombinasi berbagai faktor, baik biologis maupun psikososial.
1. Faktor Genetik
Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan riwayat keluarga yang memiliki gangguan kepribadian atau perilaku antisosial berisiko lebih tinggi mengembangkan ASPD. Namun, faktor genetik bukanlah takdir mutlak. Ia berperan sebagai kecenderungan, bukan penentu akhir.
Dengan kata lain, gen menyediakan “kerangka dasar”, sementara pengalaman hidup dan lingkungan menentukan apakah kecenderungan tersebut akan berkembang menjadi gangguan kepribadian.
2. Faktor Lingkungan dan Pola Asuh
Lingkungan masa kanak-kanak memegang peran krusial. Pola asuh yang keras, keluarga yang tidak harmonis, pengalaman kekerasan fisik maupun emosional, hingga penelantaran psikologis dapat membentuk cara pandang anak terhadap dunia.
Sumber: american psychiatric association (dsm-5-tr)
