Skripsi Stuck karena Bingung Menentukan Research Gap? Ini Cara dan Contohnya!
Research Gap Dalam Penelitian Skripsi-pinterest-
MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Draf Bab 1 sudah dibuka sejak sebulan lalu. Tapi progress masih nol koma sekian. Karena satu hal mendasar belum ketemu: research gap.
Padahal, gap penelitian adalah fondasi. Tanpa itu, skripsi hanya akan jadi daur ulang riset lama, tanpa nilai tambah. Tapi, bagaimana sebenarnya menemukan “celah” di antara lautan jurnal yang sudah membahas topik serupa?
Jawabannya bukan “baca lebih banyak jurnal” saja. Tapi baca dengan cara yang strategis, tahu apa yang dicari, dan tahu kapan harus berhenti menggali dan mulai membangun.
Berikut cara jitu menentukan research gap yang bisa dicoba!
1. Baca Literatur dengan Tujuan: Apa yang Sudah Ada, Apa yang Belum
Literatur bukan sekadar dibaca, tapi dipetakan. Temukan pola: pendekatan apa yang dominan? Teori apa yang sering digunakan? Populasi mana yang sudah banyak diteliti?
Contoh: Jika banyak riset membahas pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa, tapi sebagian besar menggunakan pendekatan kuantitatif dan fokus pada Instagram—maka bisa muncul pertanyaan: bagaimana dengan pendekatan kualitatif? Bagaimana dengan TikTok atau platform lain?
Gap bukan selalu hal besar, kadang cukup bergeser dari mainstream.
2. Telusuri Review Artikel atau Meta-Analisis
Review artikel adalah shortcut terbaik. Karena penulisnya sudah merangkum puluhan bahkan ratusan studi sebelumnya, lalu menyebutkan keterbatasan dan rekomendasi riset lanjutan.
Contoh: Dalam satu artikel review tentang kebijakan lingkungan di Asia Tenggara, disebutkan bahwa belum banyak riset membahas efektivitas kampanye media lokal terhadap kesadaran publik. Nah, itu bisa jadi pijakan awal gap.
3. Gunakan Aspek Waktu: Apakah Topik Sudah Usang?
Beberapa topik riset relevan secara waktu. Apa yang relevan lima tahun lalu bisa jadi kurang kontekstual hari ini.
Contoh: Riset lama soal pembelajaran daring sebelum pandemi Covid-19 pasti beda konteksnya dengan realitas daring pasca-pandemi. Jika belum banyak yang meneliti adaptasi jangka panjang guru setelah masa pandemi, ini bisa jadi gap aktual.
Sumber: quora
