1 tahun disway

Aurelie Moeremans Ungkap Luka Grooming lewat Buku Broken Strings, Suara Korban yang Bangun Kesadaran Publik

Aurelie Moeremans Ungkap Luka Grooming lewat Buku Broken Strings, Suara Korban yang Bangun Kesadaran Publik

Aurelie Moeremans membuka isu grooming anak lewat Broken Strings, mengulas manipulasi relasi kuasa dan dampaknya bagi kesehatan mental.--Instagram Aurelie Moremans

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Langkah Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman kelam masa lalunya melalui buku "Broken Strings" menandai momen penting dalam diskursus publik tentang kekerasan berbasis relasi kuasa. Artis dan penyanyi yang telah lama dikenal publik ini memilih berbicara terbuka tentang pengalaman menjadi korban grooming sejak usia remaja. Sebuah keputusan yang sarat risiko emosional sekaligus berdampak sosial luas.

Buku tersebut bukan sekadar catatan personal, tetapi kesaksian korban yang disampaikan dengan kesadaran penuh akan konsekuensi psikologis dan sosialnya. Dalam Broken Strings, Aurelie merekam proses manipulasi, kontrol emosional, hingga perjalanan panjang pemulihan diri yang ia lalui setelah peristiwa tersebut.

Siapa Aurelie Moeremans

Aurelie Moeremans dikenal sebagai aktris dan penyanyi yang telah lama berkarya di industri hiburan Indonesia. Kariernya dimulai sejak usia muda, termasuk keterlibatannya dalam berbagai proyek film dan sinetron.

Di balik citra publik tersebut, Aurelie kini memilih menggunakan ruang personalnya untuk membicarakan isu yang selama ini kerap tersembunyi, yakni kekerasan psikologis terhadap anak dan remaja.

BACA JUGA:Serunya ‘We Bury The Dead’, Daisy Ridley Hadapi Teror Zombie, Begini Sinopsisnya

Keputusan ini tidak lepas dari dukungan orang terdekatnya, termasuk sang suami, Tyler Bigenho, yang mendorongnya untuk melihat pengalaman pahit itu sebagai potensi penyembuhan. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain yang pernah mengalami hal serupa.

Apa Itu Grooming: Lebih dari Sekadar Pendekatan

Dalam konteks yang dijelaskan Aurelie, grooming bukanlah peristiwa tunggal, namun proses bertahap yang sistematis.

Secara ilmiah, grooming merujuk pada pola perilaku manipulatif yang dilakukan oleh individu dewasa atau pihak yang lebih berkuasa untuk membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja. Dengan tujuan mengendalikan, mengeksploitasi, atau menyalahgunakan korban.

Beberapa karakteristik grooming yang diakui dalam kajian psikologi dan perlindungan anak meliputi:

  • pembangunan kepercayaan secara perlahan melalui perhatian berlebih dan validasi emosional
  • isolasi korban dari lingkungan pendukung seperti keluarga atau teman
  • normalisasi perilaku tidak sehat melalui manipulasi perasaan bersalah atau ketergantungan
  • eksploitasi relasi kuasa, baik usia, status, maupun posisi profesional

BACA JUGA:Sekuel Film 5 cm Resmi Diumumkan, 5cm: Revolusi Hati Siap Bangkitkan Emosi Persahabatan Generasi

Organisasi seperti UNICEF, WHO, dan American Psychological Association menegaskan bahwa grooming sering sulit dikenali karena tidak selalu melibatkan kekerasan fisik di tahap awal. Namun berlangsung dalam bentuk relasi yang tampak “aman” di permukaan.

Broken Strings: Kesaksian Tanpa Romantisasi


Buku Broken Strings menjadi ruang kesaksian Aurelie Moeremans tentang pengalaman grooming sejak remaja dan proses pemulihan diri.--Instagram

Dalam Broken Strings, Aurelie secara sadar menolak pendekatan romantisasi trauma. Ia menuliskan pengalamannya dari sudut pandang korban, dengan bahasa reflektif yang menyoroti bagaimana manipulasi psikologis bekerja perlahan hingga merampas otonomi diri.

Pada bagian awal buku, Aurelie menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang ia samarkan dengan nama “Bobby”. Pertemuan tersebut terjadi dalam konteks profesional di lokasi syuting, sebuah ruang yang seharusnya aman bagi remaja.

Sumber: instagram