Manusia juga mengetahui dirinya sendiri sebagai sesuatu yang ada. Maka pertanyaannya menjadi sederhana: apakah sesuatu yang ada itu muncul dari ketiadaan?
“Ya, masa sih alam raya yang maujud didahului ketiadaan,” ujar Gus Baha.
Menurutnya, ketika manusia mengatakan sesuatu itu benar-benar tidak ada, maka tidak ada pula kemampuan yang dapat dilekatkan kepadanya. “Ketiadaan itu ya laisa, namanya tiada. Tidak punya akibat apa pun.”
Logika tersebut kemudian membawa manusia pada pertanyaan tentang pencipta. Kalau manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, lalu siapa yang menciptakan manusia?
Kalau manusia tidak menciptakan langit dan bumi, lalu siapa yang menciptakan langit dan bumi? Di titik inilah pertanyaan Al-Qur’an menjadi sangat tajam.
Gus Baha tidak sedang menggambarkan mukjizat sebagai sesuatu yang sekadar membuat manusia berkata kagum. Ia menunjukkan bagaimana Al-Qur’an mengajak manusia berpikir sampai pada persoalan paling mendasar tentang wujud.
Hati Jubair Hampir Terbang
Kekuatan argumentasi tersebut membuat Jubair bin Muth’im mengalami pengalaman yang sangat kuat. Dalam riwayat, ketika Rasulullah saw sampai pada ayat-ayat tersebut, Jubair menggambarkan keadaan dirinya dengan ungkapan:
“Kaada qalbi an yathir.” (Hampir saja hatiku terbang, red).
Ungkapan itu menarik bagi Gus Baha karena menunjukkan bahwa yang terjadi pada Jubair bukan sekadar kekaguman terhadap keindahan suara. Ada sesuatu yang menghantam pikirannya.
Ia mendengar pertanyaan. Ia memikirkan pertanyaan itu. Lalu ia menyadari bahwa argumentasi untuk menyangkal adanya pencipta tidak mudah dipertahankan.
Gus Baha menjelaskan bahwa orang bisa saja tidak melihat Allah. Tetapi tidak melihat bukan berarti tidak memiliki alasan untuk yakin. Justru Al-Qur’an mengajarkan manusia agar menggunakan tanda-tanda yang ada di hadapannya.
Tidak Perlu Menunggu Melihat Allah
Gus Baha kemudian membawa pembahasan kepada persoalan iman. Bagaimana manusia bisa yakin kepada Allah padahal tidak melihat Allah? Menurut Gus Baha, justru di situlah keistimewaan manusia yang beriman melalui akal dan Al-Qur’an.
Ia bahkan memberikan contoh yang sangat sederhana. “Orang paling mulhid (sesat, tidak percaya Tuhan, red) sekalipun, paling ateis sekalipun, terus ditanya: bisa enggak Anda mulai angka di luar angka satu? Nggak bisa.”
Kalimat tersebut kemudian dikembangkan Gus Baha menjadi analogi tentang angka. Angka dua tidak mungkin dipahami tanpa konsep angka satu.
Begitu pula angka-angka berikutnya. Berapa pun jauhnya bilangan berkembang, semuanya tetap mempunyai hubungan dengan konsep awal bilangan.
“Angka 2 sampai tidak terbatas, semuanya dibanding angka satu, itu nisbatnya. Semuanya itu cabang dari angka itu,” ungkapnya.