Jubair bin Muth’im Tergetar Dengar QS At-Tur, Gus Baha Ungkap Logika yang Sulit Dibantah (2)

Sabtu 19-09-2026,05:30 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

Melalui analogi sederhana tersebut, Gus Baha sedang menunjukkan bagaimana akal manusia bekerja untuk memahami sesuatu yang tidak selalu terlihat secara langsung. 

Malaikat mungkin memiliki pengalaman berbeda karena mereka mengetahui perkara-perkara yang tidak dilihat manusia. Tetapi, manusia justru diuji dengan kemampuan mempercayai berdasarkan petunjuk dan penalaran.

Iman Manusia Tidak Harus Menunggu Penglihatan

Gus Baha kemudian menghubungkan pembahasan itu dengan kisah Imam al-‘Amudi yang telah muncul dalam ceramahnya. Inti kisah tersebut adalah tentang keistimewaan manusia yang beriman kepada Allah tanpa melihat-Nya secara langsung.

Gus Baha menyampaikan gagasan bahwa manusia tidak perlu menunggu Nabi hadir di hadapannya untuk kemudian percaya. “Mbok siapa pun gak usah ditunggoni nabi, gak usah ditunggoni wali. Logikanya akan seperti itu,” tuturnya.

Ini menjadi salah satu karakter kuat penjelasan Gus Baha. Ia mengambil persoalan besar tentang tauhid. Kemudian membawanya ke sesuatu yang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak perlu menunggu sesuatu yang spektakuler.

Akal manusia sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk bertanya. Kalau sesuatu itu ada, siapa yang mengadakan? Kalau manusia ada, apakah manusia menciptakan dirinya sendiri? Kalau langit dan bumi ada, apakah manusia yang menciptakannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa manusia keluar dari sekadar melihat benda menuju memahami sebab di balik keberadaan.

Dari Jubair Menuju Mukjizat Al-Qur'an

Karena itu, kisah Jubair bin Muth’im menjadi sangat penting dalam penjelasan Gus Baha tentang mukjizat Al-Qur’an. Mukjizat Nabi Musa berupa tongkat dapat disaksikan oleh orang-orang yang hidup pada zamannya.

Ketika seseorang melihat tongkat membelah laut, respons pertamanya mungkin adalah kagum. “Wow, keren.” 

Tetapi setelah kekaguman itu selesai, manusia masih bisa kembali kepada persoalan awal: bagaimana menjelaskan makna kejadian tersebut?

Menurut Gus Baha, Al-Qur’an bekerja dengan cara yang berbeda. Al-Qur’an membuat manusia berpikir. Al-Qur’an memberi pertanyaan. Al-Qur’an memaksa manusia berhadapan dengan logika dirinya sendiri.

Karena itu Gus Baha mengatakan, “Kalau tongkat Nabi Musa membelah Laut Merah, kita bilang, ‘Wow, keren.’ Terus kesimpulannya, ‘Kita tidak akan mampu.’ Lha, bikin nyamuk saja, Sampeyan juga tidak mampu.”

Logika Al-Qur'an Tiak Berhenti di Zaman Nabi 

Inilah yang kemudian membuat Gus Baha membedakan mukjizat fisik dengan mukjizat Al-Qur’an. Mukjizat fisik dapat dilihat oleh orang yang hadir pada zamannya. Sementara Al-Qur’an tetap bisa dibaca dan dipikirkan oleh manusia yang hidup jauh setelah Rasulullah saw wafat.

Gus Baha menyampaikan: “Sesuatu yang ilmiah, sesuatu agama atau apa saja yang logis itu akan abadi.” Maksudnya, ketika sebuah kebenaran dapat direnungkan melalui akal, perubahan zaman tidak otomatis menghapus relevansinya.

Orang yang hidup sekarang tetap bisa membaca pertanyaan QS At-Tur. “Am khuliqu min ghairi syai’in am humul khaliqun.” (Ataukah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri), red?)

Pertanyaannya tetap sama. Apakah manusia muncul tanpa pencipta? Apakah manusia menciptakan dirinya sendiri? Apakah manusia menciptakan langit dan bumi? Kalau semua jawaban itu tidak masuk akal, manusia kembali kepada kesimpulan tentang adanya Sang Pencipta.(Bersambung)

Kategori :