Gus Baha: Jadi Kiai Ada Risikonya, Jadi Pengedar Narkoba Juga Berisiko (1)
Ilustrasi Gus Baha kala hadir dalam sebuah kajian terbuka di Universitas Islam Indonesia. -Foto/Tangkapan Layar---
MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahaduddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan bahwa menjadi orang baik bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, orang yang memilih jalan kebaikan juga harus siap menghadapi risiko, sebagaimana orang yang melakukan keburukan.
Dalam pengajiannya, pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, itu menjelaskan bahwa orang yang berbuat jahat pun menghadapi risiko. Karena itu, kesulitan yang dialami ketika berbuat baik tidak seharusnya membuat seseorang mundur.
Gus Baha: Jadi Orang Baik Juga Ada Masalah
Gus Baha mengajak jamaah membandingkan risiko menjadi orang baik dengan risiko orang yang melakukan kejahatan. Ia mencontohkan pengedar narkoba yang harus menghadapi ancaman ditangkap polisi, persaingan ant bandar, hingga kemungkinan mendapat kekerasan.
“Orang ngedarkan narkoba itu risikonya besar enggak? Ditangkap polisi, kadang saingan antar bandar narkoba. Orang jadi maling resikonya besar enggak? Kecekel, digebuki,” ujar Gus Baha dalam pengajiannya yang diturunkan secara berseri oleh Disway Malang dan tulisan ini merupakan seri pertama.
Menurut Gus Baha, menjadi orang baik juga memiliki persoalan tersendiri. Seseorang yang berdakwah, mengajar agama, atau menjalankan amanah bisa menghadapi kritik, komplain, dan berbagai kesulitan.
“Jadi kiai yo rodok-rodok ono risiko,” tuturnya.
Gus Baha kemudian menegaskan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Karena itu, seseorang tidak perlu menganggap kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan jalan kebaikan. “Ketika kebaikan itu ada masalah, keburukan juga ada masalah,” jelasnya.
Gus Baha Kutip Al Quran tentang Orang yang Berjuang
Untuk memperkuat penjelasannya, Wakil Rais Aam PBNU periode 2026–2031 itu mengutip Surah An-Nisa ayat 104. Ayat tersebut menjelaskan bahwa penderitaan yang dialami orang-orang beriman dalam perjuangan tidak berbeda dari penderitaan yang juga dialami pihak lain.
Bagian ayat yang disampaikan Gus Baha berbunyi: In takunu ta'lamuna fa innahum ya'lamuna kama ta'lamun wa tarjuna minallahi ma la yarjun.
Artinya, jika orang-orang beriman merasakan penderitaan, pihak lain juga merasakan penderitaan yang sama. Namun, orang-orang beriman memiliki harapan kepada Allah yang tidak dimiliki pihak lain.
Gus Baha menekankan bagian wa tarjuna minallahi ma la yarjun, yakni harapan kepada Allah atas sesuatu yang tidak diharapkan oleh orang lain.
“Di balik risiko kebaikan itu ada kebaikan yang kamu dapatkan yang tidak didapatkan para orang,” jelasnya.
Sumber: youtube al qolbu


