2 tahun Disway Malang

Sayyidul Istighfar Menurut Gus Baha: Kembali kepada Allah dan Mengakui Nikmat-Nya (3-Habis)

Sayyidul Istighfar Menurut Gus Baha: Kembali kepada Allah dan Mengakui Nikmat-Nya (3-Habis)

Ilustrasi Gus Baha pada Event Akbar Majelis Rasulullah saw dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad saw 1446 H di Masjid Istiqlal pada Januari 2025. -tangkapan layar Youtube Istiqlal.--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengajak jamaah memahami Sayyidul Istighfar sebagai bagian dari cara membangun hubungan seorang hamba dengan Allah. Ia mengatakan sengaja membaca Sayyidul Istighfar dalam majelis tersebut sebagai dukungan kepada Gus Wafi yang membangun Tarekat Syadziliyah.

“Beberapa hadirin, Gus Wafi, kulo sukani kopian dongo Sayyidul Istighfar. Kulo woco mawon langsung dungane Sayyidul Istighfar,” kata Gus Baha dalam sebuah pengajian di Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha kemudian membaca bagian awal Sayyidul Istighfar: “Allahumma anta rabbi.”

Ia menjelaskan makna “Rabb” sebagai Dzat yang mengurus dan memelihara. “Panjenengan rabi iku Dzat sing ngurusi ingsun (Engkau Tuhan kami, Dzat yang mengurusi kami, red).”

Menurut Gus Baha, “Rabb” berkaitan dengan makna mengurus dan memelihara. Karena itu, ketika seorang hamba mengatakan “Allahumma anta rabbi”, ia sedang mengakui bahwa Allah adalah Dzat yang mengurus dirinya.

Doa tersebut kemudian berlanjut: “Lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa ana ‘abduka, wa ana ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu.”

Gus Baha menjelaskan bahwa manusia mengakui dirinya sebagai hamba Allah dan mengakui perjanjian dengan-Nya sesuai kemampuan.

Kemudian terdapat bagian: “A‘ūdzu bika min syarri mā shana‘tu.” Gus Baha mengaitkannya dengan keburukan yang dilakukan oleh diri sendiri.

“Orang lain mau menjatuhkan Anda itu lewat memfitnah, lewat medsos atau memfitnah atau mencibir itu nunggu, nunggu diterima orang lain,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya.

Namun kalau seseorang menjatuhkan dirinya sendiri, persoalannya menjadi berbeda. “Tapi kalau kita menjatuhkan diri kita sendiri, kowe (Anda, red) langsung dianggap ra waras (tidak waras, red).”

Gus Baha kemudian memberikan perumpamaan. Orang lain yang hendak membunuh seseorang harus menunggu kesempatan. Namun kalau seseorang sendiri yang melakukan sesuatu yang menghancurkan dirinya, tidak perlu menunggu orang lain.

“Artinya begini. Nabi itu mengajarkan kita potensi terjelek kita dengan kita sendiri adalah perilaku kita sendiri,” jelas Gus Baha.

Menurut Gus Baha, bagian Sayyidul Istighfar tersebut mengajarkan agar seorang hamba meminta perlindungan Allah dari keburukan yang ia lakukan sendiri.

“Kamu bersuami istri, orang lain mau menceraikan itu harus gosip, fitnah. Tapi sekali Anda sendiri yang salah, selesai,” kata Gus Baha.

Sumber:

Berita Terkait