2 tahun Disway Malang

Gus Baha Jelaskan Sujudul Qolbi, Mengapa Orang Beriman Tak Boleh Bergantung pada Doa

 Gus Baha Jelaskan Sujudul Qolbi, Mengapa Orang Beriman Tak Boleh Bergantung pada Doa

Ilustrai Gus Baha dalam sebuah pengajian. -nu.or.id--

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Sujud kepada Allah tidak hanya dilakukan melalui gerakan fisik ketika salat. Ada pula sujudul qalbi, yakni sujudnya hati yang benar-benar tunduk kepada kehendak Allah Swt. Inilah salah satu pokok pembahasan Gus Baha dalam pengajian yang mengulas kitab dan ajaran tasawuf.

Ulama ahli tafsir Al-Qur’an asal Rembang itu menjelaskan, ketundukan hati menjadi bekal penting bagi orang beriman ketika menghadapi kesenangan maupun kesusahan. Orang yang memahami bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih tidak semestinya kehilangan keyakinan hanya karena keinginannya belum terwujud.

Dalam pengajian tersebut, KH Ahmad Bahauddin Nursalim juga membahas kebiasaan manusia yang terlalu sibuk meminta melalui doa, padahal belum tentu memahami akibat dari permintaannya sendiri. Seperti biasanya, pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, ini menyampaikan persoalan serius melalui kisah ulama, penjelasan kitab, dan guyonan khas pesantren.

Sujud Hati, Bukan Sekadar Gerakan Fisik

Gus Baha memulai pembahasan dengan menerangkan perbedaan sujud dalam fikih dan sujudul qalbi. Dalam fikih, sujud secara fisik melibatkan tujuh anggota badan sebagaimana diterangkan dalam hadis.

Namun, menurut ulama yang dikenal sebagai santri kesayangan KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen ini, pembahasan tentang sujud tidak berhenti pada gerakan badan. Hati juga harus tunduk kepada Allah.

“Jadi hati itu harus sujud, tunduk sama kehendak Allah Subhanahu wa taala,” jelas Gus Baha.

Ia kemudian menerangkan bahwa hati yang sujud tidak mudah kehilangan pegangan ketika menghadapi keadaan yang mengecewakan. Ketika mendapatkan kesenangan, seseorang bersyukur. Ketika mengalami kesusahan, ia bersabar.

Hal itu bukan berarti orang beriman tidak boleh sedih. Namun, kesedihan tidak sampai merusak keyakinannya terhadap Allah.

Mengaji Kitab Harus Berani di Hadapan Orang Alim

Sebelum membahas lebih jauh tentang sujudul qalbi, Wakil Rais Aam PBNU periode 2026–2031 tersebut menyinggung tradisi belajar kitab di pesantren. Ia menyebut sanad keilmuan yang menghubungkan para ulama, termasuk Mbah Maimoen Zubair, Mbah Zubair, dan guru-guru terdahulu.

Gus Baha juga menyebut Ihya Ulumuddin, kitab karya Imam Ghazali yang banyak dipelajari di lingkungan pesantren. Ia kemudian masuk pada pembahasan tentang sujudnya hati yang menurutnya perlu dipahami lebih jauh, tidak hanya dari sudut pandang fikih.

Dalam menjelaskan tradisi mengaji, ahli tafsir yang dikenal luas melalui kajian Al-Qur’an ini melontarkan kritik sekaligus guyonan kepada orang yang hanya percaya diri ketika berhadapan dengan orang yang tidak memahami materi.

“Kalau ngaji sama orang bodoh itu pede. Kalau masuk orang pintar enggak pede. Itu sesat, itu keliru,” kata Gus Baha.

Sumber: youtube santri 1926

Berita Terkait