2 tahun Disway Malang

Tabebuya Mekar Serempak, Kota Batu Seperti Disulap Layaknya Negeri Sakura

Tabebuya Mekar Serempak, Kota Batu Seperti Disulap Layaknya Negeri Sakura

Bunga Yabebuya yang berada di Alun alun Batu-panca rp-

BATU, DISWAYMALANG.ID — Fenomena alam memukau menghiasi sudut-sudut Kota Batu di penghujung musim kemarau panjang tahun ini. Bunga Tabebuya (Handroanthus chrysanthus) bermekaran secara serempak di berbagai ruas jalan utama dan pemukiman warga. Hamparan bunga warna kuning, putih, ungu, hingga merah muda yang lebat membuat suasana Kota Batu seketika menyerupai panorama mekarnya bunga Sakura di Jepang.

​Pemandangan tahun ini dinilai warga jauh lebih menakjubkan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pohon-pohon Tabebuya tampak dipenuhi rimbun bunga hingga hampir menutupi dedaunan, menciptakan lanskap visual yang memesona bagi siapa saja yang melintas.

​"Kami tidak tahu pasti kenapa tahun ini bunganya bisa seindah dan serimbun ini. Jumlah pohon yang berbunga juga jauh lebih banyak," ujar Nurul, salah seorang warga Kelurahan Sisir saat ditemui di kawasan Alun-Alun Kota Batu, Sabtu (3/10/2026).

​Nurul menduga, cantiknya mekar Tabebuya kali ini dipengaruhi oleh kombinasi cuaca ekstrem dan usia pohon yang semakin matang. "Kemarau kali ini selain cukup panjang, teriknya juga luar biasa. Mungkinkah karena cuaca terik ini, atau karena perawatan yang makin baik, yang jelas hasilnya sangat indah," tambahnya.

​Meski menyuguhkan keindahan luar biasa, keindahan fenomena ini tergolong singkat. Nurul menjelaskan bahwa masa mekar Bunga Tabebuya biasanya hanya bertahan sekitar dua minggu sebelum akhirnya rontok, terutama jika diterpa angin kencang.

BACA JUGA:Menelusuri Jejak Tabebuya di Nusantara, dari Amerika Latin hingga Jalanan Indonesia

​Potensi Wisata Musiman 

​Mekarnya Tabebuya di Kota Batu sebenarnya memiliki daya tarik wisata yang cukup kuat. Pada tahun-tahun sebelumnya, momen berbunganya Tabebuya kerap dirangkaikan dengan berbagai acara menarik. Salah satu yang paling dinanti adalah Festival Tabebuya di kawasan Desa Pendem, tepatnya di sekitar area Pusdik arhanud. Festival ini biasanya digelar bersamaan dengan peringatan Hari TNI setiap tanggal 5 Oktober.

​"Kalau ada festival, biasanya ada penyewaan aksesori dan pakaian khas Jepang untuk berfoto. Acaranya selalu seru karena selain menikmati bunga, pengunjung juga bisa melihat pameran alutsista di area festival," kenang Nurul.

​Namun untuk tahun ini, kepastian mengenai penyelenggaraan festival tersebut masih belum terdengar. Di beberapa titik, seperti sepanjang jalan Pusdik arhanud, Bunga Tabebuya kuning yang menjadi ciri khas daerah tersebut bahkan sudah mulai berguguran.

BACA JUGA:Mengenal Rahasia Tulisan Quartz pada Jam: dari Fenomena Piezoelektrik hingga Game Minecraft

​Pengemasan Destinasi

​Melihat antusiasme masyarakat dan keindahan yang disajikan, warga berharap potensi alam tahunan ini mendapat perhatian lebih. Baik dari pemerintah daerah maupun pelaku industri pariwisata. Mengingat Tabebuya hanya bermekar satu kali dalam setahun di penghujung kemarau, pengemasan agenda wisata yang terstruktur dinilai dapat mendatangkan nilai ekonomis bagi warga lokal.

​"Jika tahun ini belum ada festival resmi, kami tetap berharap wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu bisa memanfaatkan momen singkat ini untuk berlibur dan berfoto dengan latar belakang Tabebuya," pungkas Nurul.

BACA JUGA:Rekomendasi Gaya Batik ala Gen Z, Tetap Modis, Kasual, dan Jauh dari Kesan Kaku

​Fenomena mekarnya Tabebuya ini mempertegas julukan Kota Batu sebagai kota wisata alam dan bunga. Bagi Anda yang ingin mengabadikan momen berfoto serasa di Negeri Sakura, penghujung pekan ini menjadi waktu terbaik sebelum mahkota bunga indah tersebut rontok diterpa angin.

Sumber: