2 tahun Disway Malang

Menelusuri Jejak Tabebuya di Nusantara, dari Amerika Latin hingga Jalanan Indonesia

Menelusuri Jejak Tabebuya di Nusantara, dari Amerika Latin hingga Jalanan Indonesia

Tabebuya melingkari alun-alun Kota Batu-panca rp-

BATU, DISWAYMALANG.ID - ​​Meskipun kini menjadi ikon penataaan ruang terbuka hijau (RTH) di berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, Solo, hingga Malang dan Kota Batu, Tabebuya sejatinya bukanlah tanaman asli Indonesia. Kedatangannya ke Tanah Air menyimpan kisah penataan kota yang menarik dan penuh perhitungan ekologis.

BACA JUGA:Tabebuya, Lebih dari Sekadar Pohon Peneduh yang Tangguh

Pendatang dari Amerika Latin

​Secara botani, pohon Tabebuya berasal dari kawasan iklim tropis dan subtropis di Amerika Tengah serta Amerika Selatan, terutama Brasil. Di daerah asalnya, pohon ini dikenal dengan beragam nama daerah seperti Ipe, Pau d'Arco, atau Taheebo.

​Tabebuya pertama kali masuk ke Indonesia melalui jalur introduksi tanaman hias dan penghijauan kota. Pemerintah daerah dan ahli lanskap mulai melirik pohon ini karena karakternya yang sangat adaptif terhadap iklim tropis Indonesia yang cenderung panas dan berkelembapan tinggi.

​Surabaya menjadi salah satu kota pelopor yang secara masif menanam Tabebuya sejak era 2010-an di bawah kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini saat itu. Program beautifikasi kota tersebut terbukti sukses besar. Tabebuya tak hanya tumbuh subur, tetapi juga berubah menjadi daya tarik wisata gratis bagi warga setempat.

Mengapa Cocok di Indonesia?

​Popularitas Tabebuya di kalangan perencana kota untuk dijadikan tanaman peneduh di dalam kota,  bukan tanpa alasan. Tanaman ini memiliki serangkaian keunggulan ekologis yang membuatnya sangat ideal ditanam di sepanjang jalan protokol dan area publik:

Sistem Akar Non-Destruktif, Berbeda dari pohon perindang besar seperti Trembesi atau Beringin, akar Tabebuya tumbuh mendalam dan tidak merusak trotoar maupun struktur jalan.

Daya Tahan Kekeringan, Setelah tumbuh dewasa, tanaman ini sangat toleran terhadap cuaca panas ekstrem dan minim penyiraman.

Ketahanan Hama & Polusi, Struktur fisiknya tangguh, jarang terserang penyakit, serta memiliki kapasitas serapan CO2 dan debu kendaraan yang baik.

Pola Mekar Musiman Bunga Tabebuya biasanya mekar lebat di masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan (sekitar September–November), menciptakan momen blossom yang konsisten setiap tahun.

BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Kota Batu Sabtu 3 Oktober: Cek Kondisi Tiga Kecamatan Sebelum Liburan

Potensi Ekologis dan Farmakologi

​Di luar keindahan bunganya, Tabebuya memegang peran penting sebagai paru-paru kota. Rimbunnya daun Tabebuya saat tidak berbunga membantu meredam suhu mikro di kawasan perkotaan yang padat semen dan aspal.

​Selain fungsi lanskap, literatur etnobotani mencatat bahwa di habitat aslinya (Amerika Latin), beberapa varian Tabebuya—khususnya bagian kulit kayu Pau d'Arco—telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk meredakan infeksi dan demam karena kandungan senyawa alami naphthoquinone. Kendati demikian, penggunaannya di Indonesia sejauh ini masih difokuskan pada fungsi estetika dan tata kota.

​Kini, hadirnya Tabebuya bukti nyata bagaimana perencanaan lanskap berbasis ekologi mampu mengubah wajah perkotaan di Indonesia: ramah lingkungan, minim biaya perawatan, sekaligus menyajikan pemandangan indah bagi masyarakat luas.

Sumber: