Demensia dan Alzheimer Sering Dianggap Sama, Ternyata Berbeda! Ini Penjelasan Medisnya
Memahami Kesehatan Otak: Menelisik Perbedaan Antara Demensia dan Alzheimer--SMPN 11Kota Bima
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Banyak orang masih menganggap demensia dan Alzheimer sebagai istilah yang memiliki arti sama. Padahal, dalam dunia medis keduanya merupakan kondisi yang berbeda, meski saling berkaitan erat.
Kesalahpahaman ini kerap membuat masyarakat terlambat mengenali gejala maupun memahami penanganan yang tepat. Padahal, membedakan demensia dan Alzheimer menjadi langkah penting agar diagnosis serta terapi dapat dilakukan sejak dini.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan keduanya?
Demensia Bukan Nama Penyakit
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demensia bukanlah penyakit tunggal, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan gejala akibat penurunan fungsi otak.
Gejalanya meliputi:
- Penurunan daya ingat.
- Gangguan berpikir dan mengambil keputusan.
- Kesulitan berbahasa atau berkomunikasi.
- Perubahan perilaku dan kepribadian.
- Menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Demensia dapat dipicu oleh berbagai kondisi medis, seperti demensia vaskular akibat gangguan pembuluh darah otak, penyakit Parkinson, hingga berbagai penyakit neurodegeneratif lainnya.
Dengan kata lain, demensia merupakan sebuah sindrom yang memiliki banyak penyebab.
Alzheimer Adalah Penyebab Demensia yang Paling Umum
Berbeda dengan demensia, Alzheimer merupakan penyakit spesifik yang menjadi penyebab paling sering terjadinya demensia.
Berdasarkan data Alzheimer's Association, sekitar 60–80 persen kasus demensia di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit Alzheimer.
Penyakit ini terjadi akibat penumpukan protein abnormal berupa plak amiloid dan protein tau di dalam otak. Penumpukan tersebut secara perlahan merusak sel-sel saraf sehingga kemampuan mengingat, berpikir, dan berkomunikasi terus mengalami penurunan.
Gejala awal yang paling sering muncul adalah gangguan memori jangka pendek, misalnya mudah lupa terhadap percakapan atau kejadian yang baru saja dialami.
Tidak Semua Demensia Berakhir Menjadi Alzheimer
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah menganggap semua penderita demensia pasti mengalami Alzheimer.
Faktanya, terdapat berbagai jenis demensia lain, di antaranya:
- Demensia vaskular.
- Demensia dengan badan Lewy (Lewy Body Dementia).
- Demensia akibat penyakit Parkinson.
- Demensia frontotemporal.
Masing-masing memiliki penyebab, perkembangan penyakit, hingga pendekatan pengobatan yang berbeda.
Perbedaan Diagnosis Menentukan Penanganan
Perbedaan antara demensia dan Alzheimer juga sangat menentukan strategi terapi yang diberikan dokter.
Menurut Mayo Clinic, beberapa jenis demensia yang dipicu faktor tertentu, seperti kekurangan vitamin B12, gangguan tiroid, infeksi, maupun efek samping obat-obatan, masih berpotensi membaik apabila penyebab utamanya segera ditangani.
Sebaliknya, Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang bersifat progresif dan hingga kini belum dapat disembuhkan secara total.
Karena itu, pengobatan lebih difokuskan untuk memperlambat perkembangan gejala, mempertahankan fungsi kognitif selama mungkin, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui terapi medis dan pendampingan keluarga.
Deteksi Dini Sangat Menentukan
Para ahli menekankan bahwa setiap gangguan daya ingat yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Pemeriksaan sejak dini memungkinkan dokter mengidentifikasi penyebab penurunan fungsi kognitif sehingga pasien memperoleh penanganan yang paling sesuai.
Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar pula peluang mempertahankan kualitas hidup penderita dan mengurangi dampak penyakit terhadap keluarga.
Sumber: who.int

