Bukan Sekadar Kurang Disiplin, Ini Alasan Tubuh Sulit Lepas dari Ponsel
Fenomena kesulitan lepas dari kegiatan scrolling media sosial--Pinterest
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Banyak orang terjebak dalam kebiasaan bermain media sosial hingga larut malam. Fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk kurangnya disiplin diri atau sekadar sulit lepas dari ponsel.
Namun, kenyataannya masalah ini berkaitan erat dengan kondisi sistem saraf tubuh yang belum mampu berpindah ke fase istirahat. Secara biologis, tubuh manusia dikendalikan oleh dua sistem utama.
Pertama adalah sistem saraf simpatik yang bertugas menjaga kewaspadaan dan merespons stres. Kedua adalah sistem parasimpatik yang berfungsi membantu tubuh rileks dan memulihkan diri.
Masalah muncul ketika tubuh tidak bisa masuk ke fase istirahat mendalam karena belum merasa cukup "aman" untuk mengaktifkan kondisi parasimpatik.
BACA JUGA:Positif Hantavirus di Kapal MV Hondius, Seorang Warga AS Dievakuasi dengan Unit Biocontainment
Media Sosial sebagai Mekanisme Koping Saraf yang Tegang
Dikutip dari Hariandisway.id, gaya hidup modern dengan jam kerja panjang, rentetan notifikasi, hingga tekanan emosional membuat sistem saraf tetap dalam kondisi siaga meski hari sudah malam.
Akibatnya, saat berada di tempat tidur, tubuh tidak menangkap sinyal untuk beristirahat. Dalam kondisi saraf yang tidak teratur ini, tubuh justru cenderung mencari stimulasi tambahan ketimbang ketenangan.
Aktivitas scrolling media sosial akhirnya menjadi mekanisme koping atau pelarian. Otak mendapatkan distraksi instan dari rasa gelisah atau beban pikiran, yang memberikan rasa nyaman sementara.
Sayangnya, efek ini justru menjadi bumerang. Paparan konten yang emosional dan desain aplikasi yang memicu rasa penasaran membuat otak semakin aktif, sehingga terciptalah siklus tegang-hiburan-terjaga yang sulit diputus.
BACA JUGA:Ramai Hantavirus usai Kasus di Kapal Pesiar, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes RI
BACA JUGA:Hantavirus Sudah Menyebar di Indonesia, Ada 23 Kasus Positif, Jawa Timur Termasuk Wilayah Sebaran!
Regulasi Sistem Saraf sebagai Solusi Utama
Sumber: harian disway




