MALANG, DISWAYMALANG.ID --Di tengah perayaan International Women’s Day (IWD) 2025, perhatian terhadap kesetaraan gender di berbagai sektor semakin meningkat, termasuk dalam industri e-sports.
E- sports merupakan salah satu cabang olahraga yang berfokus pada permainan game online, yang seharusnya menjadi hak untuk semua gender dalam berpartisipasi, Namun, bagaimana kenyataannya bagi perempuan?
Dalam rangka memperingati IWD 2025, Mari simak sembilan realitanya dan jadikan untuk refleksi perbaikan kedepannya!
1.Partisipasi Perempuan Masih Rendah
Data dari Women in Games yang menunjukkan bahwa meskipun 47% dari total gamer dunia adalah perempuan, hanya sekitar 6% yang berhasil masuk ke ranah e-sports profesional, seperti yang terlihat di Prancis pada tahun 2020. Sementara di Indonesia, kontribusi perempuan dalam e-sports hanya sekitar 5-10% dari total pemain profesional.
Kurangnya representasi ini menunjukkan adanya hambatan sistemik yang menghalangi perempuan untuk berkembang dalam industri ini.
2.Pelecehan dan Diskriminasi Berbasis Gender
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan dalam e-sports adalah pelecehan daring. Survei dari ADL / Anti Defamation League menunjukkan bahwa 37% pemain perempuan mengalami pelecehan berbasis gender saat bermain game online, termasuk komentar seksis dan ancaman kekerasan.
Situasi ini menciptakan lingkungan yang tidak ramah, membuat banyak perempuan enggan mengejar karier di e-sports.
BACA JUGA:Hari Perempuan Internasional Hari Ini, Moment Refleksi Realita Kekerasan Seksual
3.Stereotip dan Bias Gender dalam Komunitas Gaming
Banyak perempuan dalam e-sports menghadapi stereotip bahwa mereka kurang kompeten dibandingkan laki-laki. Penelitian dari McKinsey (2024) menunjukkan bahwa bias ini berkontribusi pada diskriminasi terhadap pemain perempuan, baik di level amatir maupun profesional.
Studi dari Pew Research Center pada 2024 juga mengungkapkan bahwa 44% perempuan yang bermain video game mengalami keraguan dari rekan setimnya terkait kemampuan mereka, sementara hanya 14% laki-laki yang mengalami hal serupa. Stigma ini tidak hanya mempersulit perempuan untuk bersaing secara adil tetapi juga menghambat potensi mereka dalam industri gaming.
4.Minimnya Representasi dalam Posisi Kepemimpinan
Selain di tingkat pemain, perempuan juga kurang terwakili dalam peran kepemimpinan di industri e-sports, termasuk sebagai pelatih, manajer tim, atau penyelenggara turnamen. Data dari The Esports Observer menunjukkan bahwa hanya 10% dari total posisi kepemimpinan dalam organisasi e-sports besar di dunia yang diisi oleh perempuan.