Umat Hindu Malang Gelar Tawur Agung Kesanga, Tegaskan Harmoni Manusia dan Alam
perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Malang.--
BLIMBING, DISWAYMALANG.ID–Umat Hindu di Kota Malang menggelar ritual Tawur Agung Kesanga sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Brawijaya Rampal, Rabu (18/3) berlangsung khidmat dengan mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna seluruh dunia adalah satu keluarga.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang I Made Wartana menjelaskan, Tawur Agung Kesanga merupakan ritual penting dalam ajaran Hindu yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Tawur Agung Kesanga ini mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Kita adalah bagian dari alam semesta yang harus dijaga keseimbangannya,” ujarnya.
BACA JUGA:Fakta Unik Warna Biru: Warna Favorit Dunia hingga Tak Semua Bahasa Punya Kata untuk Biru
Ia menambahkan, tema Vasudhaiva Kutumbakam yang diangkat tahun ini mengandung pesan kuat tentang persaudaraan universal. Seluruh umat manusia, menurutnya, pada hakikatnya adalah satu keluarga besar yang hidup di bumi yang sama.
“Tema ini sangat relevan, karena mengingatkan kita bahwa semua makhluk adalah saudara, bukan lawan. Kita hidup bersama dalam satu rumah yang sama, yaitu bumi,” jelasnya.
Konsep tersebut, lanjutnya, bersumber dari ajaran kitab suci Hindu yang menekankan bahwa manusia dengan hati dan pikiran luhur akan memandang seluruh dunia sebagai satu keluarga, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya.
BACA JUGA:Nyepi di Kota Batu: Potret Harmoni dan Moderasi Beragama Jelang Idul Fitri
Dalam pelaksanaan ritual, umat Hindu melakukan persembahan sebagai simbol penyucian diri dan alam dari unsur-unsur negatif. Prosesi ini juga menjadi bentuk permohonan agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan.
Menurut I Made Wartana, Tawur Agung Kesanga bukan sekadar ritual seremonial, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam, terutama dalam menghadapi tantangan zaman.
“Di tengah berbagai krisis, baik lingkungan maupun sosial, manusia diingatkan untuk kembali pada nilai-nilai Dharma atau kebajikan sebagai dasar kehidupan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan. Dalam ajaran Hindu, bumi dipandang sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga.
Sumber:
