Jaringan Park Connector juga telah mencapai 391 kilometer. Singapura menargetkan penambahan lebih dari 25 taman dan lebih dari 50 kilometer jalur penghubung taman hingga 2030.
Pengalaman ini dapat menjadi referensi bagi Kota Malang yang menghadapi kebutuhan ruang terbuka di tengah perkembangan permukiman dan kegiatan ekonomi. Sementara Kabupaten Malang dan Kota Batu perlu menjaga hubungan antara kawasan terbangun, daerah resapan air, serta lingkungan alami.
Malang Pernah Miliki Konsep Kota Taman
Malang sebenarnya memiliki warisan perencanaan kota yang menarik. Pada masa kolonial, perkembangan Kota Malang dirancang melalui sejumlah tahapan pembangunan yang dikenal sebagai Bouwplan.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah arsitek dan perencana kota Thomas Karsten. Perencanaan Kota Malang pada periode 1917–1935 memperlihatkan pengaruh konsep garden city atau kota taman.
Kawasan Alun-Alun Bunder yang kini dikenal sebagai Alun-Alun Tugu, boulevard, taman, serta ruang terbuka menjadi bagian dari rancangan perkembangan kota pada masa itu.
Penelitian yang diterbitkan dalam Atrium: Jurnal Arsitektur pada April 2024 mengkaji jejak perencanaan Thomas Karsten dan citra Kota Malang sebagai kota kolonial. Penelitian tersebut menunjukkan sejumlah elemen pembentuk karakter kota masih dapat dikenali hingga sekarang.
Warisan tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan identitas Kota Malang. Tantangannya adalah mempertahankan karakter kawasan bersejarah sekaligus menjawab kebutuhan perkotaan modern.
Pertumbuhan Malang Raya dan Tantangan Perencanaan Kota
Malang Raya memiliki karakter perkembangan kawasan yang berbeda. Kota Malang berkembang sebagai pusat pendidikan, perdagangan, jasa, dan pemerintahan. Kabupaten Malang memiliki wilayah yang luas dengan kegiatan pertanian, industri, permukiman, dan pariwisata. Sementara Kota Batu dikenal sebagai kawasan wisata dengan karakter pegunungan dan pertanian.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa perluasan kawasan terbangun, kebutuhan transportasi, perubahan penggunaan lahan, dan tekanan terhadap lingkungan.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Urban Science pada 11 Agustus 2025 mengkaji perkembangan urban sprawl atau perluasan kawasan perkotaan di wilayah peri-urban Kota Malang selama 2004–2024.
Hasil penelitian menunjukkan luas kawasan terbangun meningkat dari 1.825,87 hektare atau sekitar 4 persen pada 2004 menjadi 8.017,22 hektare atau 15,39 persen pada 2024.
Pertumbuhan paling menonjol ditemukan di Kecamatan Singosari, Pakis, dan Karangploso. Kedekatan dengan perguruan tinggi, pusat wisata, dan kawasan komersial menjadi sejumlah faktor yang mendorong perkembangan tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perkembangan kawasan perkotaan tidak hanya berlangsung di pusat Kota Malang. Daerah pinggiran juga mengalami perubahan yang membutuhkan perhatian perencana wilayah dan kota.
Karena itu, pengembangan Malang Raya perlu mempertimbangkan hubungan antara pusat kegiatan, kawasan permukiman, lahan pertanian, jaringan transportasi, dan lingkungan.