Setiap kota memiliki karakter geografis, sejarah, dan persoalan berbeda. Karena itu, Malang Raya tidak harus meniru satu kota secara keseluruhan. Pengalaman beberapa kota dunia justru dapat dipelajari sesuai kebutuhan masing-masing kawasan.
1. Curitiba, Brasil: Transportasi Publik Terintegrasi
Curitiba dikenal sebagai salah satu pelopor sistem Bus Rapid Transit (BRT). Kota di Brasil tersebut mengembangkan jaringan bus berkapasitas besar yang terhubung dengan koridor transportasi dan perkembangan kawasan perkotaan.
Sistem tersebut menjadi inspirasi bagi banyak kota yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Transportasi publik ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan kota, bukan sekadar sarana memindahkan penumpang.
Bagi Malang Raya, pengalaman Curitiba relevan untuk mengembangkan konektivitas antara Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Perjalanan menuju kampus, kawasan industri, pusat perdagangan, terminal, dan destinasi wisata membutuhkan angkutan umum yang terintegrasi.
2. Kopenhagen, Denmark: Kota Ramah Pesepeda dan Pejalan Kaki
Kopenhagen dikenal sebagai kota yang memberikan ruang besar bagi pesepeda dan pejalan kaki. Pemerintah kota mencatat terdapat sekitar 400 kilometer jalur sepeda serta lebih dari 25 jembatan khusus sepeda dan pejalan kaki.
Infrastruktur tersebut membuat sepeda menjadi salah satu pilihan transportasi sehari-hari. Perencanaan kota juga memperhatikan kenyamanan ruang publik, keselamatan pengguna jalan, dan kualitas lingkungan.
Pengalaman Kopenhagen dapat menjadi referensi bagi Kota Malang yang memiliki banyak kawasan pendidikan, perkantoran, dan pusat kegiatan masyarakat. Trotoar yang nyaman, jalur sepeda yang aman, serta hubungan antarkawasan dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor untuk perjalanan jarak pendek.
3. Freiburg, Jerman: Permukiman Berwawasan Lingkungan
Freiburg di Jerman dikenal melalui pengembangan kawasan berkelanjutan, salah satunya distrik Vauban. Kawasan ini mengintegrasikan permukiman, transportasi umum, jalur sepeda, ruang terbuka, dan efisiensi energi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan perumahan tidak harus mengorbankan kualitas lingkungan. Kebutuhan mobilitas penduduk dan fasilitas sehari-hari dapat diperhitungkan sejak tahap perencanaan kawasan.
Model seperti ini relevan untuk Kabupaten Malang dan Kota Batu yang memiliki kawasan permukiman berkembang di sekitar lahan pertanian serta lingkungan dengan karakter alam yang perlu dijaga.
4. Singapura: Kota Pada dengan Ruang Hijau
Singapura menawarkan contoh bagaimana kawasan perkotaan padat dapat tetap menyediakan ruang hijau dan koridor alam. Melalui konsep City in Nature, pemerintahnya mengintegrasikan taman, jalur penghubung antarruang hijau, kawasan konservasi, dan bangunan dengan vegetasi.
Data Urban Redevelopment Authority (URA) yang diperbarui pada September 2026 mencatat sekitar 7.800 hektare lahan telah dilindungi sebagai cagar alam, kawasan alami, taman alam, dan ruang hijau lainnya.