Menurut ulama ahli tafsir asal Rembang tersebut, menyebut Nabi Muhammad pernah berhadapan dengan Abu Jahal memiliki konteks yang berbeda dibandingkan jika lawannya orang yang tidak memiliki pengaruh.
Ia juga mengaitkan pembahasan itu dengan Abu Sufyan serta para penguasa besar pada masa tersebut. Termasuk kaisar Romawi dan Persia.
Gus Baha tidak sedang mengajarkan umat Islam untuk mengagumi para penentang nabi. Ia menggunakan contoh tersebut untuk menjelaskan bahwa besarnya tantangan dapat memperlihatkan skala perjuangan seorang tokoh.
Nabi Musa Menghadapi Firaun
Contoh lain yang disampaikan Gus Baha adalah kisah Nabi Musa yang berhadapan dengan Firaun.
Firaun bukan sekadar penguasa biasa. Ia bahkan mengaku sebagai Tuhan dan memiliki kekuasaan besar. Menghadapi tokoh seperti itu tentu merupakan tantangan luar biasa dalam perjalanan dakwah Nabi Musa.
Gus Baha juga mengingatkan kisah Nabi Hud yang menghadapi kaum Ad. Kaum tersebut dikenal memiliki kekuatan besar. Begitu pula kisah Nabi Saleh dan kaum yang berkaitan dengan kemegahan Iram.
Rangkaian contoh itu memperlihatkan bahwa para nabi menghadapi masyarakat dan penguasa dengan kekuatan masing-masing.
Jangan Membuat Pujian Tanpa Dasar Ilmu
Dari pembahasan tersebut, Gus Baha kembali mengingatkan pentingnya belajar ketika memuji Nabi Muhammad. "Kalau memuji Nabi, harus belajar. Jangan mengarang sendiri."
Menurut pengajar tafsir Alquran asal Narukan Rembang itu, niat baik saja tidak selalu cukup. Seseorang bisa saja bermaksud menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah. Tetapi ungkapan yang digunakan belum tentu tepat jika tidak didukung pengetahuan.
Karena itu, mengikuti karya ulama seperti Diba', Berzanji, dan Simtud Durar menjadi pilihan yang lebih aman.
Gus Baha juga mengingatkan agar umat Islam tidak merasa harus selalu membuat sesuatu yang baru dalam urusan agama. "Kalau memuji, ya mengikuti. Tidak perlu merasa harus independen."
Pesan tersebut menekankan pentingnya kerendahan hati dalam belajar. Mengikuti ulama bukan berarti meniadakan pemikiran, melainkan menyadari bahwa pengetahuan manusia terbatas.
Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad perlu disertai ilmu. Pujian tidak hanya harus terdengar indah, tetapi juga perlu benar dan sesuai dengan pemahaman para ulama.(bersambung)