Gus Baha Ungkap Alasan Mendoakan Pendosa, Bukan Berarti Membenarkan Maksiat

Gus Baha Ungkap Alasan Mendoakan Pendosa, Bukan Berarti Membenarkan Maksiat

Gus Baha berceramah pada pengajian haul ke-15 KH Imam Yahya Mahrus di Lirboyo, Kediri. --elmahrusy media----

KEDIRI, DISWAYMALANG.ID - Mendoakan orang yang pernah melakukan dosa bukan berarti membenarkan perbuatannya. Ada pertimbangan kasih sayang dan harapan agar Allah memberikan ampunan kepada hamba-Nya. Prinsip inilah yang dijelaskan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha ketika membahas sikap terhadap orang yang meninggal dalam keadaan memiliki dosa.

Dalam pengajian haul ke-15 Mbah Kiai Imam Yahya Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Baha mengajak jamaah melihat persoalan tersebut dari sisi luasnya rahmat Allah. Menurut dia, manusia tidak seharusnya merasa berhak membatasi ampunan Allah hanya karena mengetahui kesalahan orang lain.

Gus Baha mengangkat kisah Muhammad bin Munkadir. Tokoh ulama tersebut dikenal memiliki perhatian besar kepada orang lain. Termasuk mereka yang meninggal dalam keadaan pernah melakukan perbuatan maksiat.

Dalam kisah yang disampaikan Gus Baha, Muhammad bin Munkadir tetap mendoakan orang-orang yang meninggal meskipun semasa hidupnya melakukan dosa, seperti minum minuman keras. Sikap itu bukan pembenaran terhadap maksiat. Namun, bentuk kepedulian agar orang yang telah meninggal tetap mendapatkan doa dan rahmat Allah.

Mendoakan Pendosa Bukan Membenarkan Maksiat

Gus Baha menjelaskan bahwa mendoakan orang berdosa harus dipahami sebagai sikap berharap kepada kemurahan Allah. Manusia memang dapat mengetahui perbuatan lahiriah seseorang. Tetapi tidak mengetahui secara pasti bagaimana akhir kehidupan dan kedudukan orang tersebut di hadapan Allah.

Karena itu, seseorang tidak semestinya mudah menutup pintu harapan bagi orang lain. Dosa tetaplah dosa dan tidak boleh dianggap sebagai perbuatan yang dibenarkan. Namun, urusan ampunan merupakan hak Allah yang rahmat-Nya jauh lebih luas daripada penilaian manusia.

Gus Baha juga mengingatkan bahwa sikap longgar dalam persoalan mendoakan orang berdosa tidak berarti mengabaikan ketentuan agama.

"Saya ini kiai yang cukup longgar. Tetapi saya bukan liberal atau sekuler," ujar Gus Baha dalam penjelasannya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sikap penuh kasih kepada orang yang berbuat dosa tidak harus dipertentangkan dengan ketaatan terhadap syariat. Seseorang tetap dapat mengingatkan kesalahan. Namun, pada saat yang sama tidak kehilangan rasa kemanusiaan dan harapan terhadap ampunan Allah.

Gus Baha Mengingatkan Teladan Nabi Muhammad saw

Untuk memperkuat penjelasannya, Gus Baha mengaitkan persoalan tersebut dengan kisah Nabi Muhammad saw ketika menghadiri pemakaman Abdullah bin Ubay bin Salul.

Dalam kisah yang disampaikan Gus Baha, Nabi Muhammad saw tetap menunjukkan sikap terhadap orang yang telah meninggal tersebut. Bahkan, ketika Umar bin Khattab mengingatkan tentang keburukan Abdullah bin Ubay, Nabi menjelaskan kesediaannya memohonkan ampunan.

Gus Baha mengutip jawaban Nabi yang menunjukkan betapa besar harapan beliau terhadap ampunan Allah.

"Kalau tujuh puluh kali tidak cukup, saya akan menambahnya," demikian penggalan ucapan yang disampaikan dalam kisah tersebut.

Kisah itu menjadi pengingat bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengajarkan umatnya untuk mudah kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Bahkan dalam menghadapi orang yang memiliki catatan buruk, doa dan harapan akan ampunan tetap memiliki tempat.

Jangan Merasa Lebih Berhak Menentukan Ampunan Allah

Sumber: youtube muhammad nur bin yusuf

Berita Terkait