Gus Baha Ingatkan Cara Memuji Nabi: Ikuti Ulama (3)

Jumat 06-11-2026,05:30 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

REMBANG, DISWAYMALANG.ID — Kecintaan kepada Nabi Muhammad dapat diwujudkan melalui pujian dan selawat. Namun, memuji Rasulullah tidak boleh dilakukan sembarangan. Umat Islam perlu memahami apa yang diucapkan agar tidak keliru dalam menggambarkan kemuliaan beliau.

Pesan itu disampaikan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha ketika menjelaskan tradisi pujian kepada Nabi Muhammad. Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan Rembang tersebut mengingatkan bahwa kemampuan manusia dalam memahami keutamaan Rasulullah memiliki batas.

Mengapa Pujian Sebaiknya Mengikuti Ulama?

Menurut Gus Baha, manusia tidak akan mampu menguraikan seluruh keistimewaan Nabi Muhammad. Karena itu, umat Islam sebaiknya mengikuti karya para ulama yang telah mendalami ilmu agama dan menyusun pujian kepada Rasulullah.

"Daripada memuji sendiri dan berisiko salah, lebih baik mengikuti pujian para ulama."

Pesan tersebut bukan berarti umat Islam tidak boleh mengungkapkan kecintaan kepada Nabi. Justru, kecintaan itu perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan memiliki dasar keilmuan.

Gus Baha kemudian menyebut beberapa karya pujian kepada Rasulullah. Di antaranya Diba', Berzanji, dan Simtud Durar.

Karya-karya tersebut disusun oleh ulama yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap pujian dan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti karya mereka, umat Islam tidak perlu merasa harus membuat seluruh ungkapan pujian sendiri.

Bagi kiai yang dikenal dengan kedalaman ilmu tafsirnya itu, mengikuti ulama merupakan sikap yang masuk akal. Sebab, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami seluruh persoalan agama secara mendalam.

Besarnya Seseorang Terlihat dari Lawannya

Gus Baha kemudian menghubungkan pembahasan pujian kepada Nabi Muhammad dengan cara menilai kebesaran seseorang. Ia memberikan gambaran bahwa orang besar semestinya menghadapi lawan yang juga memiliki kedudukan besar.

"Orang besar itu musuhnya juga harus orang besar," ujar Gus Baha.

Untuk menjelaskan maksudnya, Gus Baha memberikan contoh Presiden Soekarno. Jika seseorang memuji Soekarno karena berhasil mengalahkan seorang kepala lingkungan dalam pemilihan presiden, pujian tersebut justru terdengar tidak sebanding.

Kebesaran Soekarno tidak tepat digambarkan melalui kemenangan atas lawan yang jauh lebih kecil kedudukannya. Contoh itu digunakan Gus Baha untuk menjelaskan bahwa kualitas seseorang juga dapat dilihat dari besarnya tantangan yang dihadapi.

Prinsip tersebut kemudian ia hubungkan dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad.

Abu Jahal Bukan Lawan Sembarangan

Dalam kisah perjuangan Rasulullah, salah satu tokoh yang menentang beliau adalah Abu Jahal. Ia bukan orang biasa dalam masyarakat Makkah, namun tokoh yang memiliki pengaruh.

Gus Baha menjelaskan bahwa keberadaan tokoh-tokoh besar yang menentang Nabi Muhammad menjadi bagian dari gambaran tantangan dakwah saat itu.

Kategori :