Mahasiswa Perantau dan Pemuda Lokal Menghadapi Tekanan Berbeda
Survei itu juga memperlihatkan perbedaan persoalan antara pemuda lokal dan mahasiswa perantau.
Pada kelompok pemuda lokal, cicilan dan pinjaman online menjadi salah satu sumber tekanan. Persentasenya mencapai 20,32 persen. Kesulitan mencari atau mempertahankan pekerjaan tercatat 19,59 persen.
Sementara itu, mahasiswa perantau lebih banyak menghadapi persoalan biaya hidup. Sebanyak 40,84 persen menyebut kenaikan biaya hidup sebagai sumber tekanan ekonomi. Tekanan akademik atau perkuliahan juga dirasakan 22,51 persen responden kelompok ini.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan psikologis dapat berakar dari persoalan yang berbeda. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya meminta seseorang bersikap lebih kuat. Dukungan sosial, kondisi ekonomi, dan akses bantuan juga perlu diperhatikan.
Penelitian di Malang Juga Menemukan Persoalan Stres
Temuan lain berasal dari penelitian pengabdian masyarakat yang melibatkan akademisi Universitas Negeri Malang. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal Aksiologiya pada 28 Februari 2026 itu mencatat 59,1 persen dewasa muda di Kota Malang mengalami stres.
Penelitian tersebut mengaitkan kondisi itu dengan kebiasaan hidup kurang sehat, seperti kurang tidur dan merokok. Kegiatan yang dilakukan mencakup edukasi manajemen stres, gizi seimbang, yoga, dan pound fit.
Dalam survei setelah kegiatan, 50 persen peserta merasa lebih rileks dan bugar. Sebanyak 49 persen lainnya melaporkan penurunan stres secara signifikan.
Angka tersebut perlu dibaca sesuai cakupan penelitian. Hasilnya tidak otomatis menggambarkan prevalensi stres seluruh penduduk Kota Malang. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa persoalan stres juga ditemukan dalam kelompok dewasa muda yang menjadi sasaran kegiatan.
Skrining Kesehatan Mental Masih Perlu Diperkuat
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang juga menunjukkan pentingnya deteksi dini kesehatan mental. Berdasarkan data program kesehatan jiwa 2022 yang dipaparkan dalam kegiatan koordinasi pada 2023, skrining gangguan mental emosional terhadap penduduk berusia di atas 15 tahun baru menjangkau 72.343 orang.
Jumlah itu setara 3,9 persen dari target sasaran 30 persen. Capaian tersebut masih jauh dari target skrining yang ditetapkan.
Data itu bukan angka prevalensi stres masyarakat Kabupaten Malang. Namun, rendahnya cakupan skrining menunjukkan masih perlunya upaya menjangkau masyarakat untuk mengenali persoalan kesehatan mental sejak dini.
Peringatan Hari Kesadaran Stres menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis tidak seharusnya dianggap sepele. Mengenali tanda-tandanya, bercerita kepada orang tepercaya, menjaga pola hidup, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan langkah penting.
Stres bukan tanda kelemahan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengenali tekanan yang dialami dan memperoleh dukungan yang tepat sebelum beban tersebut semakin berat.