Hari Kesadaran Stres, Anak Muda Malang Tertekan Ekonomi

Hari Kesadaran Stres, Anak Muda Malang Tertekan Ekonomi

Hari Kesadaran Stres, anak muda Malang tertekan ekonomi. -Ilustrasi: AI--

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Tekanan hidup tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, kuliah, dan beraktivitas seperti biasa. Namun, di balik rutinitas itu, ada beban pikiran yang terus menumpuk.

Persoalan biaya hidup, pekerjaan, cicilan, hingga tuntutan keluarga dapat memicu stres. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam peringatan Hari Kesadaran stres Nasional atau National Stress Awareness Day, Rabu, 4 November 2026.

Peringatan ini mengajak masyarakat lebih mengenali stres. Tujuannya bukan sekadar mengurangi tekanan, tetapi juga mendorong setiap orang mencari cara sehat untuk mengelolanya.

Berawal dari Kampanye di Inggris

National Stress Awareness Day pertama kali digagas pada 1998 oleh Carole Spiers. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua International Stress Management Association (ISMA) Inggris.

Peringatan tersebut ditetapkan pada Rabu pertama setiap November. Gagasan ini muncul untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap dampak stres dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan.

Pada 2018, kampanye tersebut berkembang menjadi International Stress Awareness Week. Kegiatannya mendorong individu dan organisasi membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental serta kesejahteraan.

Tahun ini, 4 November bertepatan dengan Rabu pertama November. Momentum tersebut relevan untuk melihat tekanan psikologis yang dihadapi masyarakat, termasuk generasi muda di Kota Malang.

90,23 Persen Anak Muda Malang Merasakan Tekanan Ekonomi

Gambaran tekanan tersebut terlihat dalam survei Indopol Survey & Consulting bersama Program Globalizing UB 2026 dan BAAK FISIP Universitas Brawijaya.

Survei bertajuk Generasi Muda di Bawah Tekanan Ekonomi, Kesehatan Mental dan Masa Depan Kota Pendidikan itu melibatkan 600 responden berusia 17 hingga 43 tahun. Pengumpulan data berlangsung pada 27 Agustus hingga 7 September 2026.

Hasilnya, 90,23 persen responden mengaku merasakan tekanan ekonomi. Sementara itu, 71,67 persen menilai kondisi ekonomi berkontribusi signifikan terhadap stres yang mereka alami.

Kenaikan biaya hidup menjadi sumber tekanan terbesar. Persentasenya mencapai 31,84 persen. Berikutnya, kesulitan mencari atau mempertahankan pekerjaan sebesar 16,44 persen.

Beban cicilan dan utang, termasuk pinjaman online, juga menjadi persoalan. Angkanya mencapai 16,32 persen. Selain itu, 67,17 persen responden mengaku merasa tertekan oleh persaingan hidup di Kota Malang.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Berita Terkait