Dahlan kemudian menyarankan peserta yang ingin menggunakan layanan perbankan syariah untuk memastikan akad dan perjanjiannya benar-benar sesuai dengan kebutuhan transaksi.
Warisan Utang Rp100 Miliar
Pembahasan kemudian kembali pada persoalan utama talk show, yakni dilema pengusaha ketika membutuhkan pembiayaan tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko utang.
Suasana Talk Show with Dahlan Iskan bertema “Dilema Pengusaha: Berutang Tambah Beban, Tidak Berutang Tidak Berkembang” di Shangri-La Hotel, Surabaya, Kamis (13/8/2026). -Harian.disway.id--
Irwan Fawaid menjadi salah satu peserta yang menceritakan langsung pengalaman tersebut.
Pengusaha tambang dan kontraktor asal Bontang itu harus menghadapi persoalan utang sekitar Rp100 miliar yang ditinggalkan ayahnya setelah meninggal dunia pada 2013.
Persoalan tersebut menjadi berat karena selama hidupnya sang ayah tidak banyak melibatkan keluarga dalam pengelolaan bisnis. Irwan dan saudara-saudaranya akhirnya tidak mengetahui secara utuh kondisi perusahaan, termasuk berbagai kewajiban yang harus diselesaikan.
Setelah sang ayah meninggal, keluarga mulai didatangi pihak perbankan dan dikejar penagih utang.
"Saya bersama saudara semula kalang kabut soal utang itu," kata Irwan.
Tekanan tersebut bahkan membuat Irwan memilih menghilang selama sekitar tujuh bulan karena takut menghadapi penagihan.
Memilih Menghadapi Masalah
Titik balik terjadi ketika Irwan mencari informasi mengenai cara menyelesaikan utang melalui internet. Ia kemudian mengenal komunitas SyaREA World.
Alih-alih menghindari persoalan, Irwan didorong untuk menghadapi pihak yang memberikan pinjaman dan menjelaskan kondisi bisnis serta keuangan keluarganya.
Ia kemudian mendatangi perbankan dan menyampaikan kondisi perusahaan. Dari sana, Irwan berupaya menyusun skema pembayaran dengan cara mencicil kewajiban secara bertahap.
Pada saat bersamaan, usaha yang ditinggalkan ayahnya kembali dibangun bersama saudara-saudaranya.
Bisnis yang awalnya bergerak di sektor kontraktor bangunan kemudian dikembangkan ke bidang pertambangan.
"Dan Alhamdulillah, dari Rp100 miliar itu. Sekarang tinggal separo," ungkap Irwan.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian utang membutuhkan waktu panjang. Bukan hanya kemampuan membayar, tetapi juga keberanian untuk membuka komunikasi dengan kreditur dan memperbaiki sumber penghasilan.