Dahlan Iskan Soroti Hilirisasi Kelapa dan Direct Call Pelabuhan Bitung di Forum BI Sulut
Dahlan Iskan mendorong pengusaha Sulawesi Utara memperkuat hilirisasi kelapa, meningkatkan kapasitas produksi, dan memanfaatkan direct call Pelabuhan Bitung. -disway--
MANADO, DISWAYMALANG.ID–Penguatan industri pengolahan dan konektivitas ekspor menjadi dua isu penting dalam forum ekonomi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (17/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, founder Disway sekaligus Menteri BUMN periode 2011–2014 Dahlan Iskan mengajak pelaku usaha daerah tidak berhenti menjual komoditas dalam bentuk mentah.
Dahlan menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi dan Temu Responden Sulawesi Utara 2026. Forum itu membahas prospek ekonomi, tantangan dunia usaha, serta peluang pengembangan sektor produktif di tengah perubahan ekonomi global.
Di hadapan para pengusaha, Dahlan menekankan pentingnya fokus dalam mengembangkan bisnis, menjaga integritas, disiplin mengelola keuangan, serta berani meningkatkan kapasitas produksi. Menurutnya, pengusaha perlu memiliki orientasi jangka panjang agar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menangkap peluang pasar baru.
Dahlan Dorong Pengusaha Berani Berkembang
Dahlan mengingatkan bahwa perubahan lingkungan bisnis berlangsung cepat. Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat kemampuan membaca pasar, meningkatkan kualitas produk, dan membangun sistem usaha yang lebih mandiri.
Ia juga memberikan perhatian kepada pengusaha Sulawesi Utara yang telah mengembangkan pasar ekspor. Menurut Dahlan, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas jaringan bisnis sekaligus mendorong pelaku usaha lain mengikuti langkah serupa.
Fokus, menurut Dahlan, tidak hanya berarti bekerja keras. Pengusaha juga harus memahami arah bisnis, mengelola arus kas, menjaga kepercayaan mitra, dan konsisten meningkatkan kapasitas usaha.
Hilirisasi Kelapa Jadi Peluang
Salah satu komoditas yang mendapat perhatian khusus adalah kelapa. Sulawesi Utara memiliki potensi kelapa, selain komoditas lain seperti ikan, pala, dan cengkeh.
Dahlan menilai kelapa memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Permintaan pasar internasional terhadap produk olahan kelapa membuka ruang bagi industri daerah untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas tujuan ekspor.
Komoditas kelapa tidak harus dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Melalui proses hilirisasi, kelapa dapat diolah menjadi desiccated coconut, santan, cocofiber, cocopeat, arang, hingga crude coconut oil.
Pengembangan industri hilir dinilai dapat memberikan manfaat lebih luas. Selain meningkatkan nilai jual komoditas, proses tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok, dan meningkatkan keterlibatan petani serta pelaku usaha lokal.
Contoh pengembangan industri hilir terlihat dari ekspansi PT Royal Agro Industri. Perusahaan tersebut menaungi sejumlah fasilitas pengolahan kelapa, termasuk PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, serta menyiapkan pembangunan fasilitas baru di Riau.
Setelah seluruh fasilitas beroperasi, kapasitas pengolahan perusahaan ditargetkan mencapai sekitar 2,1 juta butir kelapa per hari. Produk turunannya disebut telah dipasarkan ke lebih dari 33 negara.
Direct Call Pelabuhan Bitung
Dalam pembahasan mengenai perluasan pasar, Dahlan juga menyoroti pentingnya layanan direct call dari Pelabuhan Bitung.
Layanan direct call memungkinkan pengiriman barang menuju pelabuhan tujuan internasional tanpa harus melalui terlalu banyak titik transit. Bagi pelaku usaha, konektivitas semacam ini berpotensi memperpendek waktu distribusi, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan kepastian pengiriman.
Sumber:

