Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah terganggunya pola tidur akibat kebiasaan scrolling tanpa henti hingga larut malam.
Paparan cahaya biru dari layar gawai serta luapan informasi yang terus mengalir membuat otak sulit untuk beristirahat, yang pada akhirnya memicu kelelahan fisik dan mental di pagi hari.
BACA JUGA:Ramadan Ubah Peta Keramaian, Omzet Parkir Kayutangan Turun di Bawah Rp1,5 Juta
BACA JUGA:58.873 Jemaah Umrah RI di Saudi Terdampak Perang Iran, Pemerintah Siapkan Skenario Pemulangan
Selain masalah fisik, fokus belajar juga menjadi taruhan besar karena otak yang terus-menerus terdistraksi oleh notifikasi yang muncul.
Remaja menjadi sulit untuk berkonsentrasi secara mendalam pada satu tugas karena pikiran mereka selalu terbagi dengan apa yang sedang terjadi di dunia maya.
Kondisi ini sering kali berujung pada penurunan prestasi akademik dan rasa frustrasi karena merasa tidak produktif.
Tekanan digital ini memicu perubahan suasana hati atau mood swings yang drastis, di mana perasaan bahagia atau sedih sangat bergantung pada validasi di internet.
Jika dibiarkan tanpa pendampingan yang tepat, rasa cemas ini bisa berkembang menjadi stres kronis. Hal ini tentu sangat berbahaya karena dapat menghambat perkembangan jati diri dan kepercayaan diri remaja di masa transisi yang sangat menentukan masa depan mereka.
BACA JUGA:Tampil Memukau di Hari Kemenangan: 9 Rekomendasi Brand 'Baju Raya' Lokal yang Wajib Dilirik
Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental di tengah bisingnya dunia maya memerlukan keberanian untuk sesekali menarik diri dan beristirahat.
Melakukan digital detox atau sekadar membatasi durasi penggunaan aplikasi tertentu bukan berarti tertinggal, melainkan cara memberikan ruang bagi pikiran agar kembali jernih dan fokus pada hal-hal nyata yang membawa kebahagiaan autentik.