Mengenal Bahaya Social Media Anxiety di Hari Kesehatan Mental Remaja 2 Maret

Senin 02-03-2026,10:40 WIB
Reporter : Alysia Devi Rahma Putri
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Setiap tanggal 2 Maret, dunia memperingati World Teen Mental Wellness Day atau Hari Kesehatan Mental Remaja Sedunia.

Momen ini menjadi pengingat penting bahwa masa remaja bukan hanya soal pertumbuhan fisik, tetapi juga fase krusial bagi keseimbangan emosional di tengah gempuran zaman yang serba cepat.

Pada era digital, tantangan yang dihadapi remaja semakin kompleks, terutama dengan kehadiran media sosial yang nyaris tidak pernah berhenti berdenyut.

Peringatan tahun ini menjadi waktu yang tepat untuk menyoroti fenomena Social Media Anxiety, sebuah kecemasan yang sering kali tersembunyi rapat di balik unggahan foto yang terlihat sempurna dan penuh tawa.

BACA JUGA:Diskon 30% Tiket Kereta Lebaran 2026 dari Stasiun Malang, 22.134 Kursi Masih Tersedia

BACA JUGA:Imbas Perang Iran, Indonesia Batalkan 21 Penerbangan, Rute ke Timur Tengah Paling Terdampak

Tekanan Digital dan Dampaknya bagi Remaja

Social Media Anxiety atau kecemasan media sosial sering kali berakar dari kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus (social comparison) dengan apa yang tersaji di internet.

Remaja cenderung melihat pencapaian orang lain dan menjadikannya standar baku untuk kebahagiaan, kesuksesan, hingga bentuk fisik mereka sendiri. Ketika realita kehidupan nyata tidak seindah filter di layar, muncullah rasa tidak percaya diri dan perasaan kurang yang mendalam.

Lebih jauh lagi, validasi eksternal melalui jumlah suka (likes), komentar, hingga jumlah pengikut (followers) telah menjadi tolok ukur harga diri (self-esteem) yang sangat rapuh. Ada tekanan tak kasat mata untuk selalu tampil menarik dan mendapatkan respon positif dari publik.

BACA JUGA:Ngabuburit Penuh Makna, YDSF dan Aremania Gelar Trotoar Kebaikan Vol 3 di Kayutangan Heritage

BACA JUGA:Sosok Khamenei yang 37 Tahun Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Jika respon tersebut minim, remaja sering kali merasa ditolak secara sosial. Fenomena ini juga diperparah oleh Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan luar biasa jika tertinggal dari tren atau aktivitas seru yang dilakukan kelompok sebayanya, yang memicu rasa terisolasi jika tidak terus-menerus memantau gawai.

Dampak Nyata Kecemasan Digital dalam Kehidupan Sehari-hari

Kecemasan yang menumpuk akibat aktivitas di media sosial bukan sekadar perasaan tidak nyaman sesaat, melainkan ancaman nyata bagi keseimbangan hidup remaja.

Kategori :