1 tahun disway

Menghadapi January Blues: Mengapa Motivasi Sering Merosot di Pertengahan Bulan Pertama?

Menghadapi January Blues: Mengapa Motivasi Sering Merosot di Pertengahan Bulan Pertama?

January Blues, fenomena yang kerap muncul di pertengahan bulan Januari--iStock

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Memasuki minggu ketiga bulan Januari, tidak jarang muncul perasaan jenuh, lelah, hingga penurunan motivasi yang signifikan dalam menjalani rutinitas. Fenomena ini dikenal secara luas dengan istilah January Blues.

Kondisi tersebut bukanlah sekadar rasa malas biasa, namun sebuah respons psikologis yang umum terjadi setelah melewati periode perayaan akhir tahun yang intens.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Simbol Kasih Sayang, Inilah Alasan 21 Januari Dirayakan sebagai Hari Peluk Nasional

Terdapat beberapa faktor ilmiah dan situasional yang memicu munculnya January Blues. Salah satunya adalah efek "pasca-liburan".

Setelah tubuh dan pikiran terbiasa dengan hormon kebahagiaan (dopamin) saat berkumpul bersama keluarga atau berlibur, transisi kembali ke tumpukan pekerjaan kantor atau tugas akademik terasa sangat kontras dan berat.

Selain itu, tekanan dari resolusi tahun baru yang terlalu ambisius sering mulai terasa membebani. Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan realitas di minggu-minggu awal, muncul rasa bersalah atau perasaan gagal yang memicu stres tambahan.

BACA JUGA:99 Persen Jemaah Indonesia Pilih Haji Tamattu, Petugas Haji Harus Paham dan Siap

Faktor cuaca di beberapa wilayah yang cenderung mendung atau sering hujan juga turut berperan dalam menurunkan energi harian karena kurangnya paparan sinar matahari yang membantu produksi serotonin.

Gejala January Blues biasanya muncul dalam bentuk rasa kantuk yang berlebihan meskipun waktu tidur sudah cukup, sulit berkonsentrasi pada detail pekerjaan, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Perasaan ini sering disertai dengan rasa cemas terhadap tumpukan tanggung jawab yang harus diselesaikan sepanjang sisa tahun.

BACA JUGA:Ada PKH hingga PIP, Daftar Bansos yang Diprediksi Cair sebelum Ramadan 2026

Strategi Menjaga Ritme Mental Tetap Stabil

Guna mengatasi penurunan motivasi ini, terdapat beberapa langkah taktis yang bisa diterapkan untuk menjaga kesehatan jiwa tetap terjaga tanpa harus merasa tertekan:

  • Menurunkan Ekspektasi Resolusi: Mengubah target besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih logis untuk dicapai setiap harinya. Fokus pada progres kecil akan memberikan rasa pencapaian yang membantu meningkatkan kepercayaan diri kembali.
  • Optimalisasi Paparan Cahaya dan Udara Segar: Meluangkan waktu sejenak di luar ruangan, terutama pada pagi hari, sangat efektif untuk menyeimbangkan kembali ritme sirkadian tubuh dan memperbaiki suasana hati.
  • Mengatur Pola Makan dan Hidrasi: Setelah konsumsi makanan berat selama liburan, kembali ke pola makan sehat yang kaya akan nutrisi dapat membantu memperbaiki metabolisme energi yang berdampak langsung pada kejernihan pikiran.

BACA JUGA:Wali Kota Batu Sebut Sawir Kapten Persikoba Layak Sandang Man Of The Match

  • Membatasi Konsumsi Media Sosial: Melihat pencapaian orang lain di media sosial sering kali memperburuk perasaan "tertinggal". Melakukan digital detox singkat bisa memberikan ruang bagi pikiran untuk lebih fokus pada diri sendiri tanpa gangguan standar eksternal.

Sangat penting untuk memahami bahwa merasa kurang bersemangat di bulan Januari adalah hal yang valid dan manusiawi. Tidak perlu memaksakan diri untuk langsung tampil sempurna atau produktif secara maksimal di awal tahun.

Memberikan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beradaptasi secara perlahan adalah kunci utama agar kesehatan mental tetap stabil dalam jangka panjang. Menghadapi tahun 2026 yang penuh dinamika, menjaga keseimbangan antara ambisi dan ketenangan batin menjadi investasi terbaik untuk bertahan di tengah tekanan rutinitas yang terus melaju.

Sumber: berbagai sumber

Berita Terkait