27 Maret Hari Teater Sedunia: Beda Negara, Beda Cara Bercerita, Indonesia Punya Wayang

27 Maret Hari Teater Sedunia: Beda Negara, Beda Cara Bercerita, Indonesia Punya Wayang

-portalelambini.id-

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Selamat hari teater sedunia! Tahukah kamu, teater itu seperti bahasa? Satu konsep, tapi diucapkan dengan cara berbeda di berbagai belahan dunia. Ada yang dramatis, ada yang penuh nyanyian, ada juga yang memakai topeng dan gerakan simbolik.

Bagi sebagian orang, teater mungkin dianggap kuno—kalah oleh film dan digital. Tapi di beberapa tempat, panggung tetap sakral.

Dari Broadway hingga Peking Opera, berikut perbedaan gaya teater di berbagai negara!

1. Broadway (Amerika Serikat): Spektakuler dan Komersial

Kalau membicarakan teater modern, Broadway di New York adalah rajanya. Panggung besar, efek spesial, dan musikal yang mahal. Produksi seperti The Phantom of the Opera atau Hamilton bisa berjalan bertahun-tahun dengan penonton selalu penuh. Broadway adalah mesin uang sekaligus pusat inovasi teater dunia.

Salah satu contoh paling terkenal adalah The Lion King, yang menggabungkan musik luar biasa dengan kostum dan properti megah berbentuk binatang. Panggung Broadway juga melahirkan bintang besar seperti Hugh Jackman dan Idina Menzel.

2. West End (Inggris): Saingan Abadi Broadway

London punya West End, rival berat Broadway. Bedanya, West End lebih mempertahankan gaya klasik. Shakespeare? Jagoannya masih dihidupkan di sini. Produksi seperti Les Misérables dan The Mousetrap (yang sudah tayang sejak 1952!) jadi bukti kalau gaya lama tetap punya pasar.

West End terkenal karena tetap mempertahankan banyak naskah teater Shakespeare dalam bentuk aslinya. Salah satu pertunjukan terbaiknya adalah Macbeth oleh Royal Shakespeare Company, yang menampilkan drama tragis penuh ambisi dan pengkhianatan.

3. Kabuki (Jepang): Ekspresi Tanpa Batas

Di Jepang, ada Kabuki. Pemainnya dulu hanya laki-laki, bahkan yang berperan sebagai wanita. Kabuki dikenal dengan riasan wajah putih mencolok dan gerakan dramatis. Ceritanya banyak mengambil sejarah Jepang atau kisah-kisah samurai.

Salah satu pertunjukan Kabuki yang terkenal adalah Kanadehon Chūshingura, kisah klasik tentang 47 Ronin yang membalas dendam atas kematian tuannya yang ditulis pada 1748. Dengan kostum mencolok dan gerakan teatrikal yang khas, Kabuki tetap menarik minat penonton modern.

4. Noh (Jepang): Simbolisme dan Filosofi

Lebih tua dari Kabuki, Noh adalah teater yang mengandalkan gerakan minimalis dan topeng sebagai simbol emosi. Ada yang bilang, Noh itu seperti puisi di atas panggung. Butuh kesabaran untuk menikmatinya, tapi di Jepang, Noh masih dianggap sebagai seni tertinggi.

Salah satu pertunjukan Noh yang terkenal adalah Atsumori, kisah tentang seorang samurai muda yang terbunuh di medan perang. Teater ini lebih tenang dan filosofis dibanding Kabuki, tapi tetap punya tempat di hati pencinta seni.

5. Peking Opera (China): Seni Bertarung di Panggung

Bukan cuma akting dan nyanyi, di Peking Opera pemainnya juga harus bisa akrobat dan bela diri. Kostum warna-warni, musik khas, dan suara tinggi yang unik jadi ciri khasnya. Karakter dalam Peking Opera punya kode warna tertentu—merah untuk keberanian, putih untuk pengkhianat.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Farewell My Concubine, kisah tragis tentang seorang jenderal dan selirnya di era perang kuno China. Pertunjukan ini menggabungkan seni bela diri, nyanyian khas opera, dan gerakan tarian yang dramatis.

6. Wayang (Indonesia): Teater dengan Pakem

Di Indonesia, sebelum ada drama TV, sudah ada Wayang. Ini adalah pertunjukan teater yang mengangkat cerita Ramayana atau Mahabharata, dengan gerakan tari yang khas. Dibanding Broadway yang penuh teknologi, Wayang Wong lebih mengandalkan ekspresi dan filosofi.

Sumber: quora