AITF 2026 Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi AI yang Diakui Pasar Internasional
Workshop Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 yang digagas oleh Komdigi dengan menggandeng Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada-Alysia Devi/diswaymalang.id-
BACA JUGA:UNISMA Buka Prodi Sains Lingkungan, Rektor Ungkap Kampus Tembus Peringkat 51 Nasional versi SCImago
Sementara itu, perwakilan UGM, dr Mardhani Ria Setiawan, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah transformasi digital yang kian masif. Ia meyakini bahwa sinergi antara Komdigi dan universitas melalui AITF akan melahirkan generasi mumpuni yang mampu memberikan solusi riil bagi kebutuhan negara.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo, dalam sambutannya memberikan pandangan mendalam mengenai peta persaingan global. Ia menyebut bahwa penguasaan AI saat ini merupakan penentu kekuatan sebuah negara, menggeser dominasi sumber daya alam seperti minyak di masa lalu.
“Jika dulu negara dikatakan punya power kalau punya minyak, sekarang tren dunia menunjukkan negara akan menjadi super power jika menguasai AI. Hampir seluruh lini kehidupan kini menggunakan teknologi ini. Indonesia membutuhkan sedikitnya 9 juta talenta digital, dan hampir semua perusahaan yang datang ke UB selalu mengeluhkan kekurangan talenta di bidang tersebut,” tegas Prof Widodo.
BACA JUGA:DPRD Malang Semprot PJT I, SPAM Bango Sering Gangguan Sejak Beroperasi
Ia juga mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton di tengah perlombaan pengembangan teknologi global. Program AITF ini menjadi langkah konkret untuk menyiapkan peserta agar mampu bersaing, tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di kancah global.
Menutup rangkaian sambutan, Dr Ir I Nyoman Adhiarna memberikan gambaran mengenai potensi ekonomi digital di masa depan. Diperkirakan pada tahun 2030, teknologi AI akan berkontribusi hingga 15,7 triliun USD bagi ekonomi global dan menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
Namun, tantangan besar yang dihadapi Indonesia adalah kebutuhan 400 ribu talenta baru setiap tahunnya agar industri ini bisa berkembang optimal.
"AITF mengedepankan studi kasus untuk menjawab permasalahan nyata di masyarakat. Ini adalah kick-off awal bagi para peserta untuk berkontribusi bagi Indonesia. Negara yang maju dimulai dari pendidikan yang baik. Kita memiliki kekayaan alam melimpah, namun tanpa pendidikan yang baik, kita akan tertinggal. Maka, program dukungan akses pendidikan seperti ini sangat tepat untuk memperkuat kedaulatan digital kita," pungkasnya.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari perwakilan Komdigi, Kepala Pusat Data Informasi dan Kesejahteraan Sosial Kementrian Sosial yang memaparkan tentang Sekolah Rakyat sebagai objek use case AITF, dan Manajemen Kependudukan Nasional serta sesi presentasi dan diskusi intensif antara tim mentor dengan seluruh kelompok mahasiswa, guna mematangkan solusi AI yang tengah dikembangkan.
Sumber:
