9 Buku Self-Improvement yang Bisa Jadi Teman Bijak Selama Kuliah

Selasa 26-08-2025,15:01 WIB
Reporter : Elvandha Ayu Fasha Habib Sabil
Editor : Agung Pamujo

5.  The Subtle Art of Not Giving a Fuck – Mark Manson

Dengan bahasa lugas dan sedikit sarkastik, Manson mengajak pembaca menyaring hal-hal yang benar-benar penting. Buku ini cocok bagi mahasiswa yang mudah stres memikirkan ekspektasi orang lain atau terbebani standar kesempurnaan. Pesannya jelas, tidak semua hal perlu dipedulikan, pilihlah yang esensial.

BACA JUGA:Tim UB Berjaya di Ajang Konferensi Perpustakaan Digital, 5 Paper Masuk Nominasi, Satu Jadi Juara

6.  The Let Them Theory – Mel Robbins

Robbins memperkenalkan prinsip “let them”, yaitu seni menerima orang lain sebagaimana adanya tanpa harus memaksakan diri. Bagi mahasiswa yang kerap menghadapi drama pertemanan atau tekanan sosial, buku ini bisa menjadi panduan untuk lebih tenang menghadapi situasi sosial kampus.

7.  The Shift – Tinx

Buku ini ditulis dengan target utama pembaca muda di usia 20-an. Tinx membicarakan perihal pencarian identitas, percintaan, hingga tantangan hidup modern. Mahasiswa yang sering merasa lost akan menemukan cermin dalam pengalaman yang dibagikan penulis.

8.  Start with Why – Simon Sinek

Banyak mahasiswa yang memilih jurusan atau organisasi hanya mengikuti arus. Buku ini mengingatkan pentingnya menemukan alasan mendalam “why” sebelum bertindak. Dengan memahami tujuan, setiap langkah dalam perkuliahan bisa terasa lebih bermakna.

9.  Essentialism – Greg McKeown

Dalam dunia yang penuh distraksi, mahasiswa sering terjebak multitasking. Buku ini menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang benar-benar prioritas. Bagi mahasiswa aktif organisasi, Essentialism bisa jadi panduan agar tidak kelelahan dan tetap terarah.

Kategori :