Menurut Menteri Pertanian, Produksi Beras Nasional Catat Rekor Tertinggi

Kamis 03-07-2025,16:15 WIB
Editor : Agung Pamujo

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID -Capaian produksi beras nasional menunjukkan angka yang menggembirakani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Januari–Agustus 2025 diperkirakan mencapai 24,97 juta ton. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun menyebut bahwa angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. "Kita patut bersyukur luas panen dan produksi beras nasional mengalami lonjakan," ujar Mentan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta pada Rabu (2/7).

Mentan menyampaikan bahwa sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama ekonomi nasional, bahkan di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Amran menegaskan pentingnya pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Ia menyebut, sejarah mencatat sektor pertanian selalu menjadi penopang utama ekonomi nasional terutama di masa krisis ketika perubahan iklim ekstrem. Termasuk, ketidakpastian global akibat perang militer dan perang tarif yang melumpuhkan berbagai sektor.

"Pertanian tetap menjadi kokoh sebagai sumber devisa negara, menyerap tenaga kerja, menyediakan pangan, dan menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat," 

Amran juga menyebut, produksi beras Indonesia terproduktif di ASEAN. Bahkan proyeksi USDA terhadap produksi Indonesia akan mencapai 34,6 juta ton, dang angka ini tertinggi di ASEAN.

"Selain itu, FAO memprediksi produksi beras 2025 tembus 35,6 juta ton. Capaian ini hasil kerja keras dan atas dukungan Komisi IV dan arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian besar terhadap sektor pertanian," sambungnya.

BACA JUGA:Mahasiswa Unisma Raih 2 Emas dan 1 Perak di Porprov Jatim 2025, Bukti Bisa Kuliah Sambil Berprestasi

Serapan Bulog Juga Melonjak

Lebih lanjut, Amran mengungkapkan, selain produksi yang meningkat, serapan beras oleh Perum Bulog juga mengalami lonjakan. Hingga pertengahan 2025, Bulog telah menyerap sebanyak 2,6 juta ton beras.

Kementan memproyeksikan angka ini masih akan bertambah signifikan seiring panen raya berikutnya.

Beberapa capaian teknis lain juga ikut dipaparkan, antara lain:

  • Realisasi kawasan padi: 33,92 persen
  • Realisasi kawasan jagung: 37,33 persen
  • Realisasi insentif penyuluh: 59,63 persen
  • Pendidikan vokasi pertanian: 97,20 persen
  • Pupuk subsidi: 38,84 persen
  • Akses pembiayaan: 50 persen
  • Benih ternak unggul: 31,40 persen
  • Layanan kesehatan hewan: 40,75 persen
  • Pelatihan bidang pertanian: 40,28 persen.

Sementara itu, progres fisik berupa cetak sawah baru telah mencapai 11,75 ribu hektare dan optimalisasi lahan seluas 59,95 ribu hektare.

Apresiasi dan Evaluasi dari DPR RI

Sejumlah anggota Komisi IV DPR RI memberikan apresiasi atas pencapaian Kementan. Politisi PDI Perjuangan, Ketut Suwendra, menyebut rekor produksi yang tercapai sebagai bukti keberhasilan arah kebijakan pertanian nasional.

"Kami mengapresiasi kerja keras Pak Menteri dan seluruh jajaran. Meski ada catatan soal stok lama, angka akhir tetap mencetak rekor tertinggi selama 57 tahun. Ini luar biasa. Kami ucapkan selamat Pak Menteri," kata Ketut.

Namun, ia juga mengingatkan agar Kementan memperhatikan dinamika harga gabah menjelang musim panen. "Saat ini serapan sudah hampir 2,7 juta ton, tinggal tersisa 300 ribu ton. Panen berikutnya akan segera dimulai. Jika tidak segera ada Inpres, maka harga di tingkat petani bisa jatuh," ucapnya.

Kategori :