Misalnya, untuk “marah”, harus tunjukkan ekspresi tegas. Untuk “senang”, wajah harus tersenyum. Latihan di cermin akan membantu tampil lebih alami dan dipahami oleh pengguna bahasa isyarat.
7. Rekam Dirimu Sendiri Lalu Tonton Ulang
Jika malu latihan depan orang lain, rekam saja diri sendiri pakai kamera ponsel. Lalu tonton ulang dan nilai sendiri: apakah bentuk tangan sudah benar? Apakah urutannya sesuai?
Juga bisa simpan video itu sebagai portofolio belajar, atau bahkan mengunggahnya untuk menginspirasi orang lain.
8. Ciptakan ‘Kamus Mini’ Harian
Setiap hari, pilih 5 kata yang ingin dihafalkan. Buat catatan kecil: nama isyaratnya, gambar gerakan, dan kapan memakainya.
Misalnya, hari ini temanya “di meja makan”: makan, minum, sendok, piring, enak. Besok ganti tema: sekolah, transportasi, atau hobi. Setelah seminggu, sudah hafal 35 kosakata!
9. Gunakan Isyarat dalam Kehidupan Nyata (Meski Cuma Sendiri Dulu)
Jangan tunggu punya teman tuli dulu. Bisa mulai memakai bahasa isyarat sendiri saat menyebutkan jam, berpikir tentang makanan yang ingin dimakan, atau menyapa hewan peliharaan.
Semakin sering digunakan, semakin otak terbiasa. Bahasa isyarat bukan hafalan, tapi kebiasaan.
Belajar bahasa isyarat bukan tentang jadi penerjemah profesional. Tapi tentang membuka diri, memperluas komunikasi, dan menjadi bagian dari masyarakat yang lebih inklusif.
Global Accessibility Awareness Day 2025 adalah waktu yang pas untuk memulainya. Mulai dari abjad, lanjut ke angka dan kosakata dasar, lalu pakai setiap hari.
Karena bahasa itu bukan soal dihafal — tapi soal dipakai.
Dengan penguasaan bahasa isyarat, akses penyandang disabilitas untuk berkomunikasi juga lebih terbuka!