Hari Bahasa Isyarat Internasional 23 September: Jejak Sejarah, Ragam Bahasa, hingga Maknanya
Ilustrasi bahasa isyarat--iStockphoto
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Setiap tanggal 23 September, dunia memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, sebuah momen penting untuk mengingat bahwa komunikasi tidak hanya hadir melalui suara, tetapi juga melalui gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa visual yang penuh makna.
Menurut data World Federation of the Deaf (WFD), ada sekitar 70 hingga 72 juta orang Tuli di seluruh dunia, dan lebih dari 80 persen di antaranya tinggal di negara berkembang.
Mereka menggunakan lebih dari 300 bahasa isyarat berbeda untuk berkomunikasi. Meski tidak terdengar, bahasa ini adalah bahasa alami yang berdiri sendiri, lengkap dengan struktur, tata bahasa, dan ekspresi budaya unik.
Sejarah Lahirnya Hari Bahasa Isyarat Internasional
Peringatan ini disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2017 melalui sebuah resolusi yang mengakui bahasa isyarat sebagai bagian dari hak asasi manusia.
Peringatan resmi pertama digelar pada 23 September 2018, dan tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Federasi Dunia Tuna Rungu (WFD) pada tahun 1951.
Sejak awal, tujuan perayaan ini adalah untuk mendorong inklusi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap komunitas Tuli.
Setiap tahun, peringatan ini mengangkat tema yang berbeda, namun semangatnya selalu sama yakni memastikan bahwa suara tanpa bunyi pun tetap memiliki tempat yang layak didengar.
BACA JUGA:23 September Hari Maritim Nasional, Momen untuk Tingkatkan Pengelolaan Laut Berkelanjutan
Bahasa Isyarat: Identitas, Budaya, dan Hak Asasi
Bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas linguistik dan ekspresi budaya. Di Indonesia, ada dua jenis bahasa isyarat yang digunakan:
- Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo): lahir secara alami dari komunitas Tuli, menggunakan dua tangan untuk menyusun huruf dan makna.
- Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI): bahasa isyarat buatan pemerintah yang disusun sebagai sistem terjemahan dari bahasa lisan, umumnya menggunakan satu tangan seperti American Sign Language (ASL).
Contohnya, ketika merepresentasikan huruf A, SIBI menggunakan gerakan mengepalkan tangan, sedangkan Bisindo membentuk segitiga dengan jempol dan telunjuk dari kedua tangan.
Perbedaan ini mencerminkan keragaman sekaligus kekayaan budaya bahasa isyarat di Tanah Air.
Cara Dasar Menggunakan Bahasa Isyarat
Bahasa isyarat tidak hanya berbicara melalui tangan, tetapi juga melibatkan seluruh tubuh. Misalnya, alis yang terangkat saat memberi tanda bisa menunjukkan pertanyaan.
Posisi tangan juga penting yakni biasanya berada di depan dada, dengan telapak tangan menghadap lawan bicara agar gerakan lebih jelas terbaca.
Bagi pemula, ada beberapa langkah sederhana untuk mulai belajar bahasa isyarat, seperti:
- Menghafal ucapan dasar: “halo”, “selamat tinggal”, dan “terima kasih”.
- Melatih ekspresi wajah sesuai konteks.
- Menjaga posisi tubuh agar pesan lebih mudah dipahami.
Mengapa Penting Merayakan Hari Bahasa Isyarat?
Sumber: world federation of the deaf
