Kampanye ini bisa hidup dalam bentuk web series, filter Instagram, sampai activasi offline seperti pop-up booth.
Setiap elemen harus relevan dengan masalah brand dan terhubung langsung dengan insight pasar.
6. Sajikan Mock-Up Sesuai Identitas Brand
Bukan hanya ide yang dibutuhkan klien — tapi visualisasi.
Tampilkan mock-up yang mendekati realita, dengan tone warna, font, layout, dan gaya komunikasi yang sesuai dengan identitas visual brand.
Misalnya, jika brand yang dihadapi punya citra elegan, tampilkan layout yang minimalis dengan tone earth tone.
Jika targetnya Gen Z, bisa ditampilkan konten dinamis khas TikTok, story carousel, atau konsep reels yang viral.
Mock-up ini menjadi bukti bahwa tim agency memahami bukan hanya ide besar, tapi juga detail kecil yang membuat kampanye terasa “punya mereka”.
7. Tunjukkan Indikator yang Jelas dan Terukur
Setiap ide harus punya tolak ukur.
Tanpa itu, tidak ada jaminan bahwa kampanye yang dibuat akan dianggap berhasil.
Sajikan indikator keberhasilan yang konkret dan realistis. Misalnya:
Engagement rate meningkat 5% dalam 6 minggu
Konversi landing page mencapai 1,5%100
Naiknya traffic organik dari brand keyword sebanyak 20%
Klien perlu merasa bahwa setiap rupiah yang mereka keluarkan akan menghasilkan sesuatu yang dapat dievaluasi.