Apakah ingin memperluas pasar? Meningkatkan engagement digital? Melakukan rebranding?
Kumpulkan informasi dari brief, artikel, laporan tahunan, atau komentar konsumen di media sosial. Kemudian, sajikan dalam presentasi bahwa semua riset itu dilakukan bukan untuk mengesankan, tapi untuk menunjukkan kepedulian dan pemahaman yang tulus.
3. Sampaikan Market Insight yang Relevan dan Mendalam
Setelah memahami masalah, sampaikan pemahaman terhadap lanskap pasarnya.
Data dan tren diperlukan untuk menunjukkan bahwa analisis dilakukan secara menyeluruh — bukan hanya bersandar pada intuisi.
Misalnya, jika brand yang dipitching adalah minuman kekinian untuk remaja, bisa disampaikan bahwa tren minuman saat ini bergerak ke arah fungsional dan sehat. Lalu, kaitkan dengan perilaku konsumsi konten dari audiens utama di media sosial.
Insight seperti ini akan menjadi fondasi yang memperkuat seluruh strategi kreatif. Semakin tajam insight yang dibawa, semakin besar kepercayaan dari pihak klien.
4. Lakukan Analisis Kompetitor secara Visual dan Strategis
Ide bagus bisa kehilangan daya jika mirip dengan kompetitor.
Maka dari itu, penting untuk menyajikan analisis kompetitor secara komprehensif — bukan hanya dari sisi visual, tapi juga narasi, pendekatan media, dan voice brand yang digunakan.
Buatlah perbandingan kompetitor yang jelas, bisa dengan SWOT atau competitive matrix. Tunjukkan kelemahan di pasar yang bisa diisi oleh brand yang sedang dipitching.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa agency tidak hanya sekadar kreatif, tapi juga strategis.
5. Bangun Ide Kreatif yang Sederhana tapi Tajam
Ini momen di mana perhatian klien sepenuhnya tertuju.
Usulkan kampanye dengan narasi yang sederhana, tapi tajam, relevan dengan audiens, dan bisa dieksekusi di banyak kanal.
Misalnya, untuk brand sunscreen lokal, bisa diusulkan kampanye bertema #SinarBaik, dengan pesan: “Matahari bukan musuh, tapi pengingat untuk merawat kulit.”