CEO CooSAE Ajak Anak Muda Batu Bangun Ekosistem Pertanian dan UMKM

Selasa 03-11-2026,13:17 WIB
Reporter : Panca Rachmad Pamungkas
Editor : Mohammad Khakim

BATU, DISWAYMALANG.ID — Kota Batu memiliki banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Namun, potensi tersebut perlu dikelola secara produktif. Salah satu caranya melalui penguatan rantai pasokan dan kolaborasi lintas sektor.

Gagasan itu disampaikan CEO CooSAE Rakhmad Hardiyanto dalam seminar Youth Smart Village. Kegiatan bertema pengembangan potensi dan inovasi generasi muda desa berbasis teknologi dan kewirausahaan tersebut mempertemukan pegiat pertanian, wirausaha muda, serta pelaku ekonomi kreatif.

Rakhmad, yang akrab disapa Hardi, menilai anak muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi lokal. Ia melihat mulai tumbuhnya minat generasi muda terhadap bisnis pertanian di Kota Batu. Sejumlah penggerak muda ikut mendorong perkembangan tersebut. Di antaranya Alfredo Dhilan G., pemilik pabrik olahan apel, dan Dwi Lili Indayani dari G Kraf Kota Batu.

BACA JUGA:INDOVEX 2026 Dibuka di Kota Batu, 75.266 Desa Indonesia Didorong Tembus Pasar dan Gaet Investor

Menurut Hardi, kekuatan Kota Batu tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan sektor pariwisata. Kota ini juga memiliki sumber daya manusia kreatif yang perlu dipertemukan. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi kolaborasi tersebut melalui dinas terkait.

Mengubah Potensi Lokal Menjadi Aset Produktif

Hardi menceritakan pengalamannya sejak 2014. Saat itu, ia mulai terlibat bersama pegiat industri kreatif dan pertanian untuk menggali potensi Kota Batu.

Ia menilai potensi daerah tidak cukup hanya dikenali. Potensi tersebut harus diolah agar menghasilkan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah smart integrated farming. Konsep ini menghubungkan kegiatan agribisnis, agroindustri, dan agrowisata dalam satu ekosistem.

Model tersebut telah diterapkan di kawasan Bumiaji. Menurut Hardi, pengembangan di kawasan itu dapat menjadi contoh bagi desa lain. Setiap daerah bisa menyesuaikannya dengan karakter dan potensi masing-masing.

"Potensi harus menjadi aset produktif," ujar Hardi.

BACA JUGA:Pemkot Batu Perkuat CooSAE dan PLUT, Dorong Hasil Pertanian Bernilai Jual Tinggi

Kolaborasi Pentahelix dan Peran CooSAE

Hardi juga menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix. Model ini melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas atau agregator.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan potensi desa tidak berjalan sendiri-sendiri. Setiap unsur memiliki peran dalam memperkuat produksi, pendampingan, promosi, hingga pemasaran.

Kategori :