Di Kota Malang, RSUD Dr. Saiful Anwar dan Rumah Sakit Umum UMM menjadi dua fasilitas yang tercatat dalam penelitian psoriasis. Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasien psoriasis telah menjadi bagian dari layanan klinis dan kegiatan penelitian di Malang.
Warga juga dapat menanyakan layanan kulit dan kelamin di rumah sakit atau klinik terdekat. Jadwal dokter, ketersediaan pemeriksaan, serta pilihan terapi perlu dikonfirmasi langsung kepada fasilitas kesehatan karena layanan dapat berubah.
Penanganan psoriasis disesuaikan dengan tipe, lokasi, dan tingkat keparahan penyakit. Dokter dapat mempertimbangkan obat oles, fototerapi, atau obat sistemik sesuai indikasi. Pasien sebaiknya tidak mengganti atau menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Mengurangi Stigma, Memperkuat Dukungan
Penelitian UB dan UMM memberikan gambaran bahwa edukasi serta kualitas hidup merupakan bagian penting dalam pengelolaan psoriasis. Meski belum menggambarkan jumlah seluruh penderita di Malang Raya, temuan tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat.
Data yang tersedia belum cukup untuk memastikan prevalensi atau tren kenaikan kasus psoriasis di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Angka dari sampel penelitian tidak dapat disamakan dengan jumlah seluruh pasien yang tercatat di rumah sakit, klinik, dan puskesmas.
Karena itu, Hari Psoriasis Sedunia 2026 dapat menjadi momentum untuk mendorong edukasi publik, meningkatkan pemahaman pasien, dan memperkuat dukungan sosial. Masyarakat juga perlu menghindari mitos bahwa psoriasis menular atau terjadi semata-mata karena kebersihan yang buruk.
Melalui tema Look Beyond My Skin, pesan yang dibawa jelas: penderita psoriasis membutuhkan perawatan medis, informasi yang benar, dan lingkungan yang tidak menghakimi. Melihat manusia di balik kondisi kulit menjadi langkah penting untuk menjaga martabat dan kualitas hidup mereka.