MALANG, DISWAYMALANG.ID - Psoriasis bukan sekadar persoalan kulit bersisik. Penyakit peradangan kronis ini juga dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga kualitas hidup penderitanya. Sejumlah penelitian yang melibatkan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti persoalan tersebut.
Momentum Hari Psoriasis Sedunia yang diperingati setiap 29 Oktober menjadi pengingat pentingnya pemahaman yang benar tentang penyakit ini. Pada 2026, kampanye global mengusung tema “Look Beyond My Skin”, yang mengajak masyarakat melihat lebih jauh daripada kondisi kulit seseorang.
Penelitian di Malang memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi pasien. Studi mahasiswa UMM pada 2025 di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum UMM menemukan bahwa 44,4 persen responden mengalami dampak besar terhadap kualitas hidup akibat psoriasis.
Sementara itu, penelitian yang melibatkan akademisi keperawatan UB menyoroti pentingnya edukasi terstruktur bagi pasien psoriasis. Kedua temuan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan penyakit ini tidak cukup hanya berfokus pada gejala kulit, tetapi juga perlu memperhatikan pemahaman pasien dan dampak penyakit terhadap kehidupan sehari-hari.
Sejarah Hari Psoriasis Sedunia
Hari Psoriasis Sedunia pertama kali diperingati pada 2004. Peringatan ini dikembangkan sebagai kampanye global untuk meningkatkan kesadaran tentang psoriasis dan artritis psoriatik, memperjuangkan hak pasien, serta mendorong akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.
Kampanye tersebut digerakkan oleh International Federation of Psoriasis Associations (IFPA) bersama organisasi pasien dan komunitas kesehatan di berbagai negara. Kegiatan peringatannya meliputi edukasi publik, penyebaran informasi medis, berbagi pengalaman pasien, dan advokasi untuk mengurangi stigma.
Perhatian terhadap psoriasis juga meningkat di tingkat internasional. Pada 2014, Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly mengadopsi resolusi mengenai psoriasis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian menerbitkan laporan global tentang penyakit ini pada 2016, termasuk dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas hidup.
IFPA memperkirakan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia hidup dengan psoriasis atau artritis psoriatik. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan persoalan kesehatan global yang membutuhkan pemahaman masyarakat dan dukungan layanan kesehatan.
Tema 2026: Look Beyond My Skin
Tema Look Beyond My Skin mengajak masyarakat melihat pribadi secara utuh, bukan hanya kondisi kulit yang tampak. Kampanye tahun ini menyoroti pengalaman anak muda yang hidup dengan psoriasis, termasuk tantangan dalam pergaulan, pendidikan, pekerjaan, dan pembentukan kepercayaan diri.
Bercak kulit yang terlihat dapat memicu tatapan, komentar negatif, atau kesalahpahaman. Sebagian penderita juga menghadapi stigma karena masyarakat belum memahami sifat penyakit tersebut.
Psoriasis tidak menular melalui sentuhan, bersalaman, atau interaksi sehari-hari. Penyakit ini berkaitan dengan proses peradangan dan sistem kekebalan tubuh, bukan karena penderita kurang menjaga kebersihan.
Melalui tema tersebut, masyarakat diajak mendengarkan pengalaman pasien tanpa menghakimi. Dukungan keluarga, teman, sekolah, kampus, dan tempat kerja dapat membantu mengurangi beban sosial yang dialami penderita.
Penelitian UMM: 44,4 Persen Responden Mengalami Dampak Besar
Penelitian mahasiswa UMM yang tercatat dalam repositori kampus pada 2025 membahas hubungan psoriasis dengan kualitas hidup pasien di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum UMM.
Hasil penelitian menunjukkan 44,4 persen responden mengalami dampak besar terhadap kualitas hidup. Kelompok usia 20–44 tahun menjadi kelompok terbanyak, yakni 51,85 persen dari responden penelitian.
Temuan ini relevan karena psoriasis dapat muncul pada usia produktif, ketika seseorang sedang menjalani pendidikan, membangun karier, dan memperluas hubungan sosial. Kondisi kulit yang terlihat dapat memengaruhi kenyamanan saat berinteraksi dan menurunkan rasa percaya diri.