Gus Baha Ingatkan Bahaya Berpikir Sempit, Kebaikan Harus Dibangun Bersama

Selasa 27-10-2026,05:30 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

Masuk ke sesi tanya jawab, ada perwakilan instansi yang cerita soal inovasi Al-Qur'an bahasa isyarat untuk teman-teman tuli. Mendengar hal ini, ahli fikih yang cerdas dan jenaka dalam merumuskan hukum Islam ini langsung membawanya pada rel prinsip dasar fikih: la yukallifullahu nafsan illa wus'aha.

Allah itu zat yang Maha Pengasih dan tidak pernah bikin umat-Nya repot. Kalau seseorang punya uzur fisik—entah itu tunanetra, tunarungu, atau difabel lainnya— syariat Islam sejak awal sudah menyediakan jalur dispensasi (isqatul fardi). Jadi, jangan sampai kita terlalu kreatif bikin aturan ibadah publik yang ujung-ujungnya malah menyiksa batin mereka.

Sambil berkelakar khas gaya pesantren, Gus Baha berpesan santai, "Jangan dipaksa." Orang buta jangan dipaksa melihat keindahan alam. Orang tuli jangan disuruh menikmati indahnya suara bacaan toa masjid. Kasihan mereka kalau dipaksa memikul beban di luar kapasitas organ tubuhnya!

Di sinilah indahnya khazanah mazhab fikih, baik Syafi'i maupun Hanafi. Kalau merujuk mazhab Hanafi, seseorang disebut ajiz (tidak mampu) jika memang tidak bisa melakukannya sendiri secara mandiri. Sehingga otomatis gugur kewajibannya.

Gus Baha pun menutup pesannya dengan mengajak umat mensyukuri kelonggaran syariat ini. Agar kawan-kawan difabel tidak merasa stres atau gagal beragama hanya karena keterbatasan fisik mereka.

Kategori :