2 tahun Disway Malang

Pengajian Gus Baha: Mengapa Ibadah Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya?

Pengajian Gus Baha: Mengapa Ibadah Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya?

Ilustrasi pengajian Gus Baha di Pondok Pesantren Bumi Sholawat asuhan Gus Ali Mashuri (kanan). -youtube progresif tv5--

MALANG, DISWYMALANG,ID — Memahami dunia tasawuf sering terjebak pada pandangan bahwa kedekatan dengan Allah hanya diraih melalui ritual, amalan wirid, atau lisan yang basah dengan zikir. Padahal, inti dari jalan spiritual para wali terletak pada ketepatan ilmu dan pemahaman mendalam (ma'rifatullah) terhadap sifat-sifat Allah Swt.

Hal tersebut dikupas tuntas oleh ulama ahli tafsir Al-Qur'an dan fiqih, KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, dalam sebuah ceramah keagamaan.

"Menjadi wali itu tidak hanya soal banyaknya wiridan. Abul Qasim Al-Junaydi pernah membuat satu kalimat yang membuat Allah ridha," ujar Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Rembang tersebut.

Gus Baha kemudian mengutip doa pencerahan dari ulama sufi ternama itu yang dibaca setiap malam. Doa tersebut berbunyi: "Ya Allah, mengapa Engkau memberiku rezeki? Padahal Engkau sama sekali tidak membutuhkan aku."*

Menurut Pengasuh Lembaga Pendidikan Pengembang Pengajar Al-Qur'an (LP3IA) Narukan ini, Allah memberi hamba-Nya tanpa didasari rasa butuh. Berbeda dengan manusia yang memberi karena ada pamrih atau kebutuhan tertentu. 

"Orang memberi ke kiai saja kadang rumit. Menyumbang satu juta, tapi mintanya surga. Itu kan repot," seloroh Gus Baha menggambarkan sifat transaksional manusia.

Keutamaan sikap hamba sejati juga dicontohkan lewat kepasrahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tercatat dalam kitab Ar-Risalah al-Qushayriyyah: "Kafani 'izzan an akuna laka 'abdan. Cukuplah menjadi sebuah kebanggaan bagiku bahwa aku adalah hamba-Mu."*

Kisah Nabi Ibrahim dan Pelajaran Toleransi Ilmu

Di sisi lain, Rais Syuriyah PBNU periode 2021-2026 ini mengingatkan bahaya sikap merasa paling suci tanpa dibarengi kedalaman ilmu. Beliau mencontohkan kisah Nabi Ibrahim as yang pernah kedatangan seorang penganut agama Majusi atau penyembah api. 

Saat itu, si penyembah api meminta makanan. Karena prinsip fikih awalnya menganggap membantu orang kafir adalah keliru, Nabi Ibrahim menolak memberi makan kecuali orang tersebut masuk Islam. 

Mendengar hal itu, Allah Swt langsung menurunkan wahyu teguran kepada Nabi Ibrahim. "Wahai Ibrahim, selama 60 tahun dia kafir kepada-Ku, toh Aku tetap memberinya makan. Mengapa engkau tidak bisa memberinya makan walau hanya satu hari?"

Mendapat teguran itu, Nabi Ibrahim langsung mengejar dan memberi makan pria tersebut hingga akhirnya bersyahadat. 

Gus Baha juga mengutip riwayat dari Shahih Muslim mengenai seorang ahli ibadah yang kepalanya diinjak oleh orang fasik saat sedang sujud. Dalam kekesalannya, si ahli ibadah bersumpah, "Wallahi la yagfirullahu laka (Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si pembuat dosa itu)!" 

Allah lantas menegur orang tersebut melalui nabi pada zamannya. Allah mempertanyakan mengapa sifat Allah yang Maha Luas rahmat-Nya seolah direduksi hanya menjadi dzat yang menghukum. 

"Allah tidak ridha sifat-Nya dikurangi hanya menjadi Penghukum," tegas Gus Baha yang juga Ketua Tim Lajnah Mushaf UII Yogyakarta ini.

Pandangan Islam tentang Harta dan Politik

Sumber: youtube basajan tv berkah

Berita Terkait