Gus Baha Ingatkan Bahaya Berpikir Sempit, Kebaikan Harus Dibangun Bersama
Ilustrasi Gus Baha berceramah diampingi Gus Ali Masyhuri, pengasuh Ponpes Bumi Sholawat. -youtube progresif tv--
MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, ulama kharismatik asal Rembang, Jateng, ini kembali mengajak jemaah berpikir kritis tapi santai. Kali ini, beliau membahas isu yang melebar ke mana-mana secara renyah: mulai kritik sosial kitab kuning, pusingnya manuskrip kuno, sampai urusan fikih kawan-kawan difabel.
Membuka kajian dari kitab Ihya' Ulumuddin, Gus Baha langsung memberi pengantar khas. Kata beliau, siapa pun yang mendalami satu bidang secara spesifik (labudda ayyusrifa), itu pasti cenderung kebablasan. Kalau sudah kebablasan, cara pandangnya jadi tidak terkontrol karena menganggap bidangnya yang paling segalanya.
Contoh gampangnya begini, kata Gus Baha. Jika dirinya seorang wanita cantik, mungkin akan bilang, "Wah, perempuan itu harus dilindungi, dihormati, dan sebagainya!" Tapi orang yang fanatik di satu sudut ini sering lupa. Mereka mengira syarat selamatnya perempuan itu cukup dari kapasitas internal mereka sendiri. Atau, sekadar punya teman yang beres.
Mereka lupa kalau syarat utama perempuan selamat itu sebetulnya adalah ketiadaan penjahat, pemerkosa, dan orang-orang jahat di sekelilingnya. Makanya, pengasuh Pondok Pesantren Tahandzurul Qur'an itu menegaskan, reformasi perempuan (islahun nisa) itu tidak bisa berdiri sendiri. Tidak bisa hukum dan fikih itu dimulai dan diakhiri hanya soal urusan perempuan saja.
Gus Baha lalu memberi ilustrasi dunia medis yang sering salah kaprah. Ada orang dibilang sisa hidupnya tinggal dua bulan, kalau tidak segera ketemu obat tertentu di Belanda.
Karena panik, orang ini fokus penuh ke obat itu dan merasa hidupnya bergantung hanya pada obat tersebut. Sampai lupa pada oksigen gratis dari Allah atau nikmat makan minum sehari-hari. Padahal, kalau dia dapat obatnya tapi di jalan dirampok atau dibunuh orang, ya sama saja mati juga!
Dari sinilah inti argumen beliau mengalir deras. Tokoh ulama Nusantara yang masyhur dengan gaya penyampaiannya yang santai namun bernas ini menyatakan bahwa spesialisasi itu tidak pernah mencakup semua elemen kehidupan secara utuh. Memperbaiki perempuan tidak akan pernah bisa kalau tidak dibarengi dengan memperbaiki kaum laki-laki (islah ar-rijal).
Apa gunanya seorang wanita menjadi salehah, tidak mau berbuat maksiat, tapi hidup di tengah masyarakat yang semuanya biadab dan tidak bermoral? Mau bikin apa dia di sana? Itulah sebabnya, Gus Baha menegaskan bahwa "Kebaikan harus komunal." Kebaikan itu wajib dikerjakan bersama-sama secara kolektif.
Para suami atau lelaki di luar sana harus dididik agar tidak berbuat aniaya dan tidak semena-mena. Selain itu, negara juga wajib hadir. Melalui musyawarah bersama atau yang dalam Islam disebut sebagai muktamar—yakni tamamiru bainakum bima'ruf (mengurus urusan bersama dalam kebaikan)—tatanan sosial yang maslahat baru bisa terwujud nyata.
Kenapa Manuskrip Kuno Al-Qur'an Justru Rawan Salah?
Pindah ke urusan ilmu Al-Quran, pakar tafsir Al-Quran yang kerap merujuk kitab-kitab klasik mu'tabar ini tiba-tiba mengeluarkan "fatwa" yang bikin orang seisi ruangan kaget. Kata beliau, manuskrip-manuskrip Al-Qur'an kuno yang disimpan rapi di museum-museum itu sebenarnya lebih baik tidak usah sering-sering dibaca! Loh, kok bisa barang antik malah dilarang disentuh?
Sebab, tegas beliau dengan logika santainya, lembaran-lembaran itu dulunya ditulis oleh individu (rajulun wahid). Namanya juga tulisan personal. Bukan produk Lajnah atau konsensus panitia resmi seperti di zaman Khalifah Utsman bin Affan. Potensi salah harakat, salah titik, atau salah dengar dari metode dikte (imla') zaman dulu itu tinggi sekali.
Beliau lantas menceritakan betapa rumitnya sejarah kodifikasi mushaf dulu. Sahabat sekaliber Utsman saja mengumpulkan orang banyak di hadapan publik (mala'). Dan, butuh dua saksi bukti untuk setiap ayat, supaya tidak ada tulisan yang meleset.
Kalau manuskrip perseorangan dibiarkan, Gus baha menyebutnya punya "Potensi kesalahan tinggi". Karena dibuat tanpa saringan komite.
Jadi, putra ulama kharismatik almarhum KH Nursalim al-Hafidz ini berpesan agar kita tidak gampang silau. Lalu, menelan mentah-mentah tulisan tangan orang saleh masa lalu sebagai rujukan mutlak teks Al-Qur'an.
Sumber: youtube al mutabarik










