Gus Baha: Islam Bukan Milik Orang Arab, Ulama Besar Justru Banyak Lahir dari Non-Arab (1)

Gus Baha: Islam Bukan Milik Orang Arab, Ulama Besar Justru Banyak Lahir dari Non-Arab (1)

Gus Baha saat memberikan kajian di hadapa KH Anwar Mansur Lirboyo, Kediri. -Youtube Mimansa TV--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan bahwa menjadi kiai bukan perkara mudah. Apalagi ketika harus menjelaskan ilmu tingkat tinggi kepada masyarakat dengan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda.

Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan Rembang itu mengawali pengajiannya dengan guyonan khas. Ia mengaku jarang mengaji secara serius seperti malam itu.

"Nggih, niki jarang kulo ngaji serius. Gara-gara diteror kalian khataman Quran lan Alfiah," ujarnya dalam sebuah pengajian yang juga dihadiri KH Anwar Mansur Lirboyo, Kediri.

Kajian Gus Baha ini diturunkan Disway Malang secara bersambung karena panjangnya materi. Ini adalah tulisan seri 1.

Gus Baha menyatakan menghadapi situasi yang tidak sederhana. Jika berbicara terlalu ilmiah, belum tentu semua pendengar memahami. Namun, jika pembahasannya terlalu ringan, para santri yang sudah khatam Al-Qur'an dan Alfiah bisa merasa kurang dihargai.

"Dadi niki memang angel. Dadi kiai pancen angel. Angel dadi kiai iku (Jadi ini memang sulit. Sulit menjadi kiai itu, red)," katanya. 

Karena itu, Gus Baha memilih menyampaikan ilmu dengan cara yang santai. Ia mengingatkan bahwa keluasan rahmat Allah tidak bisa diukur hanya dari banyaknya ibadah atau tingginya penguasaan kitab.

"Fadhlullah jembar. Wis pokoke (karunia Allah itu luas, pokoknya, red)," ujarnya dengan gaya khasnya.

Gus Baha kemudian menyinggung ibadah dan harapan masuk surga. Menurut Gus Baha, manusia tidak perlu membayangkan bahwa untuk masuk surga harus beribadah persis seperti Imam Al-Ghazali atau Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

"Sampeyan ora usah salat kayak Imam Ghazali, kayak Syekh Abdul Qadir Jilani. Ora ngarah mampu (Anda tidak pusah salat seperti Imam Ghazali, seperti Syekh Abdul Qadir Jilani. Tidak akan mampu, red)," tuturnya.

Bukan berarti ibadah boleh disepelekan. Gus Baha justru mengajak jamaah memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ada standar sah dalam fikih yang perlu dipenuhi, sedangkan kemurahan Allah jauh lebih luas daripada kemampuan manusia membalas nikmat-Nya.

Islam Tidak Hanya Milik Orang Arab

Dari persoalan itu, Gus Baha masuk ke pembahasan tentang Al-Qur'an dan Alfiyah Ibnu Malik. Keduanya merupakan materi yang sangat tinggi dalam tradisi keilmuan Islam. Al-Qur'an menjadi kitab suci umat Islam. Sedangkan Alfiyah dikenal sebagai kitab penting untuk mempelajari tata bahasa Arab.

Namun, ada hal menarik yang perlu direnungkan. Banyak tokoh besar dalam sejarah keilmuan Islam justru berasal dari kalangan non-Arab.

Gus Baha menyebut Ibnu Malik, pengarang Alfiyah, sebagai ulama yang berasal dari wilayah Spanyol. Ia juga mengingatkan bahwa Sibawaih, tokoh besar ilmu nahwu, berasal dari Persia.

Sumber: youtube mimansa tv

Berita Terkait