“Otoritas itu dari siapa coba? Urip kepenak ya di luar wilayah kita. Kehidupan besok juga di luar wilayah kita,” jelasnya.
Allah Bisa Memberi Perintah kepada yang Belum Ada
Gus Baha kemudian membawa pembahasan pada konsep yang lebih dalam, yakni bagaimana Allah memberikan khitab kepada sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Dalam penjelasan ulama, dikenal istilah khitabun lil ma’dum, yakni khitab kepada sesuatu yang belum ada.
Allah cukup berfirman “Kun”, maka sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada.
“Allah bisa meng-khitab yang tidak ada. Karena dengan ‘Kun’ itu yang tidak ada menjadi ada,” terang Gus Baha.
Hal tersebut sekaligus menunjukkan perbedaan mendasar antara otoritas manusia dan otoritas Allah.
Manusia hanya bisa berbicara berdasarkan apa yang berada dalam kemampuannya. Sementara Allah adalah pencipta segala sesuatu sehingga tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Jangan Mengambil Otoritas Allah
Karena itu, Gus Baha mengingatkan agar manusia tidak mengambil alih otoritas yang sebenarnya hanya milik Allah.
Pembahasan tersebut menjadi penting ketika seseorang berbicara mengenai nasib manusia, dosa, ampunan, hidayah, maupun masa depan.
Manusia bisa menjelaskan ajaran agama, tetapi tidak boleh menempatkan dirinya sebagai pemilik keputusan terakhir atas kehidupan seseorang.
“Beri otoritas itu hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena dia adalah pemilik otoritas sejati,” tegas Gus Baha.
Menurutnya, memahami konsep khitab membuat seseorang lebih hati-hati dalam berbicara. Sebab, ada wilayah yang memang dapat dijelaskan manusia dan ada wilayah yang sepenuhnya menjadi hak Allah.
“Allah adalah zat sing otoritatif, malikul umuri, pengendali dari semua,” jelasnya.
Karena itu, dalam memahami Al-Qur’an, Gus Baha mengingatkan pentingnya melihat siapa yang sedang berbicara, kepada siapa khitab ditujukan, serta siapa yang sesungguhnya memiliki otoritas. “Di antara mengkaji Quran itu mengkaji cara Allah membuat khitab,” kata Gus Baha.(Bersambung)