Ia mengajak jamaah belajar mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan karena memang Allah adalah Tuhan.
Bukan semata-mata karena Allah menyediakan surga atau karena takut terhadap neraka.
Naik Kelas dalam Beribadah
Menurut Gus Baha, takut neraka dan berharap surga bukan sesuatu yang harus ditolak. Namun, manusia perlu terus meningkatkan kualitas pemahamannya.
Tahap berikutnya adalah mencari rida Allah Swt.
"Dadi ngaji naikno kelas, songko ibadah wedi nroko (atau ngarep surgo, red) saiki naik kelas golek ridane Allah," kata Gus Baha.
Ia menjelaskan bahwa manusia perlu dilatih untuk mencapai tingkat tersebut.
Semakin memahami tauhid, seseorang seharusnya semakin sadar bahwa Allah tetap menjadi tujuan utama.
Surga dan neraka merupakan makhluk Allah. Allah-lah yang mengendalikan keduanya.
Karena itu, menurut Gus Baha, orang yang memiliki pemahaman lebih mendalam tidak hanya takut terhadap neraka, tetapi takut kepada Allah sebagai Tuhan.
Semua Kembali kepada Allah
Di akhir pembahasan, Gus Baha kembali menekankan persoalan nisbat atau penyandaran kepemilikan.
Manusia boleh menggunakan istilah "rumah saya", "mobil saya", "anak saya", "istri saya" atau "usaha saya" dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam pemahaman hakiki, semuanya tetap berada dalam kekuasaan Allah Swt.
Manusia hanya menerima amanah untuk mengelola apa yang diberikan kepadanya.
Karena itu, menurut Gus Baha, memahami tauhid berarti menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar berdiri sendiri di luar kehendak Allah.
Pemahaman tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian pembahasannya mengenai la ilaha illallah.
Gus Baha mengajak jamaah tidak berhenti pada pengucapan kalimat tauhid, tetapi berusaha memahami konsekuensi dari keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.