Ia mengingatkan agar manusia tidak menjadikan berbagai persoalan dunia sebagai alasan untuk terus menunda ibadah.
Usaha tetap dijalankan. Utang tetap diselesaikan. Keluarga tetap diurus.
Namun, semua itu tidak seharusnya membuat hubungan dengan Allah ditempatkan belakangan.
Sayid Abdullah Al-Haddad dan Keteguhan Tauhid
Pada bagian lain ceramahnya, Gus Baha kembali menyinggung pemikiran Sayid Abdullah Al-Haddad.
Menurut Gus Baha, ada bagian dari kitab Sayid Abdullah Al-Haddad yang menurutnya sangat unik.
Biasanya, kata Gus Baha, para ulama memberikan berbagai penjelasan untuk menjaga umat agar tidak kehilangan kalimat tauhid.
Namun, dalam pembahasan tersebut, Sayid Abdullah Al-Haddad justru menunjukkan keyakinan yang sangat kuat terhadap permanennya la ilaha illallah dalam hati seorang mukmin.
Gus Baha mengatakan, manusia memang dapat diuji melalui harta, takhta maupun wanita.
Namun, ketika diuji untuk meninggalkan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, seorang mukmin semestinya tidak mudah berubah.
Menurutnya, godaan dunia dapat membuat seseorang melakukan dosa. Tetapi dosa tidak otomatis menghilangkan keyakinan tauhid seseorang.
Ia kemudian mengingatkan jamaah agar tidak mudah mengkafirkan orang yang masih memiliki kalimat la ilaha illallah.
Allah Menerima Kalimat Tauhid
Gus Baha kemudian membahas redaksi yang menurutnya sangat menarik dari Sayid Abdullah Al-Haddad mengenai penerimaan Allah terhadap kalimat tauhid.
Ia menyampaikan bahwa seseorang yang selama hidupnya berada dalam kekufuran dapat menjadi seorang mukmin setelah mengucapkan la ilaha illallah dengan keyakinan.
Gus Baha memberikan gambaran seseorang yang telah puluhan tahun berada dalam kekufuran. Ketika kemudian mengucapkan kalimat tauhid dengan sungguh-sungguh, status keimanannya berubah.
Menurut Gus Baha, hal tersebut menunjukkan betapa istimewanya kalimat la ilaha illallah.
Ia bahkan mengaitkannya dengan pembahasan tentang mudahnya seseorang memasuki Islam melalui kalimat tauhid.