Namun, Gus Baha juga menegaskan bahwa setelah seseorang beriman, ia tetap harus memperbaiki kehidupan dengan istigfar dan tobat.
"Setelah itu sudah kamu harus yakin diampuni Allah, yo istigfar tobat," ujarnya.
Tauhid Menjadi Dasar Keimanan
Gus Baha kemudian membandingkan beberapa cara pandang ulama mengenai hubungan antara istigfar dan kalimat tauhid.
Ia menyebut pandangan Imam Sanusi dalam Ummul Barahin mengenai kedudukan la ilaha illallah sebagai kalimat yang sakral.
Menurut penjelasan Gus Baha, ada cara pandang yang menganjurkan seseorang beristigfar terlebih dahulu sebelum mengucapkan kalimat tauhid.
Namun, ia juga menjelaskan pandangan yang berbeda dari Sayid Abu al-Hasan Asy-Syadzili.
Dalam cara pandang tersebut, Gus Baha menekankan bahwa kalimat la ilaha illallah sendiri memiliki kedudukan sebagai kunci menuju ampunan Allah.
Ia kemudian mengulang gagasan yang menjadi benang merah ceramahnya.
Kalimat tauhid bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dengan lisan.
Kalimat tersebut merupakan pengakuan paling mendasar bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Iman Tidak Boleh Bergantung pada Imbalan
Gus Baha kemudian kembali kepada persoalan keikhlasan.
Ia meminta jamaah membandingkan cara manusia mengatakan sebuah kenyataan dengan cara manusia mengakui Allah sebagai Tuhan.
Ketika mengatakan tembok berwarna putih, manusia tidak membutuhkan hadiah.
Ketika mengatakan air terasa dingin atau api terasa panas, manusia juga tidak menunggu imbalan.
Namun, ketika mengatakan Allah adalah Tuhan, sebagian manusia masih mengaitkannya dengan keinginan mendapatkan surga.
Menurut Gus Baha, cara berpikir tersebut perlu diperbaiki.