Gus Baha: Jangan Mengaku Memiliki, Semua Hakikatnya Milik Allah (3)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). --laduni.id--
MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha melanjutkan penjelasannya mengenai tauhid dengan membahas cara manusia memandang kepemilikan, keluarga dan hubungan dengan Allah Swt. Menurutnya, manusia sering merasa memiliki sesuatu hanya karena secara lahiriah berada dalam kekuasaannya.
Gus Baha yang merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah itu mengingatkan bahwa kepemilikan manusia pada hakikatnya bersifat nisbi. Sedangkan kepemilikan yang hakiki berada pada Allah Swt.
Penjelasan tersebut ia kaitkan dengan pembahasan sebelumnya mengenai la ilaha illallah. Menurut Gus Baha, ketika seseorang benar-benar memahami tauhid, ia akan menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pada dirinya pada akhirnya merupakan pemberian dan kehendak Allah.
Keluarga Juga Bukan Milik Mutlak Manusia
Gus Baha kemudian memberikan contoh mengenai hubungan suami, istri dan anak.
Menurutnya, seseorang dapat menyebut seseorang sebagai anaknya atau istrinya karena adanya hubungan yang diakui secara syariat dan sosial. Namun, manusia tidak menciptakan jantung, napas maupun kehidupan orang yang disebut sebagai miliknya.
"Sing gawe jantung Pangeran, sing ngekeki napas Pangeran, sing ngekeki rezeki Pangeran," ujar Gus Baha.
Ia menjelaskan, sejak seseorang masih kecil hingga dewasa, kehidupan manusia tetap berada dalam pengaturan Allah Swt.
Hubungan kepemilikan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Gus Baha, lebih tepat dipahami sebagai nisbat majazi, bukan kepemilikan hakiki.
Ia kemudian membuat perumpamaan mengenai seekor sapi.
Seseorang bisa menyebut seekor sapi sebagai sapinya karena ia memelihara dan mengurusnya. Namun, kehidupan sapi tersebut tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Karena itu, menurut Gus Baha, manusia jangan sampai memahami kepemilikan secara mutlak.
"Artine nek Pangeran sing nduwe, kabeh kudu mbok pahami," tuturnya.
Allah dan Rasul Harus Didahulukan
Gus Baha kemudian mengingatkan jamaah tentang pentingnya mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dibanding kepentingan keluarga.
Ia merujuk pada pembahasan tentang ayat yang menyebut orang tua, anak, saudara, pasangan, keluarga, harta dan tempat tinggal sebagai sesuatu yang tidak boleh lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam QS At-Taubah ayat 24, Allah Swt memang menyebut berbagai kecintaan duniawi tersebut dan menegaskan bahwa apabila semuanya lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya dan perjuangan di jalan-Nya, maka manusia perlu menunggu ketetapan Allah.
Sumber: youtube obor iman nusantara











