2 April, World Autism Awareness Day! Mari Patahkan Stigma Yang Salah!

2 April, World Autism Awareness Day! Mari Patahkan Stigma Yang Salah!

-pinterest-

MALANG, DISWAYMALANG.ID --  Selamat hari autisme sedunia! Tahukah kamu, penyandang autisme sering kali dipandang sebagai individu yang tidak suka berinteraksi atau terisolasi secara sosial. Padahal, pandangan ini tidak sepenuhnya benar.

Mereka hanya membutuhkan cara berkomunikasi yang berbeda dan mungkin lebih nyaman dengan metode tertentu dalam berinteraksi. Banyak orang juga masih terjebak dalam stigma bahwa autisme identik dengan kecerdasan rendah.

Sebuah survei dari National Autistic Society menemukan bahwa 87 persen masyarakat masih memiliki anggapan keliru tentang autisme, termasuk menyamakan kondisi ini dengan isolasi sosial atau ketidakmampuan intelektual!

Berikut 9 hal yang kalian perlu tahu tentang autisme.

1. Autisme Tidak Sama dengan Isolasi Sosial

Masyarakat sering menganggap penyandang autisme sebagai individu yang cenderung menyendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Padahal, banyak dari mereka yang sebenarnya ingin berinteraksi, hanya saja cara berkomunikasinya berbeda dengan kebanyakan orang. Kesalahpahaman ini sering kali muncul karena perbedaan dalam cara mereka mengekspresikan diri dan memahami isyarat sosial.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 58 dari 160 anak di seluruh dunia memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD). Angka ini menunjukkan bahwa autisme bukanlah kondisi yang jarang terjadi, dan penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa penyandang autisme memiliki keinginan untuk berinteraksi, meskipun dengan cara yang berbeda.

2. Kesulitan Sosial Bukanlah Keengganan Berinteraksi

Penyandang autisme mungkin mengalami kesulitan dalam memahami isyarat sosial atau berkomunikasi dalam situasi yang melibatkan interaksi dengan banyak orang. Namun, itu bukan berarti mereka tidak ingin berhubungan. Mereka hanya membutuhkan pendekatan yang lebih sederhana atau jelas. Misalnya, mereka mungkin lebih nyaman dengan komunikasi yang terstruktur dan langsung, tanpa adanya ambiguitas.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 15 dari 36 anak dengan autisme sulit untuk mendapatkan teman atau peer. Angka ini menegaskan bahwa banyak individu yang mungkin menghadapi tantangan dalam interaksi sosial, namun dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat.

3. Setiap Penyandang Autisme Berbeda

Autisme adalah spektrum yang sangat luas. Tidak ada satu cara yang tepat untuk berinteraksi dengan setiap individu yang ada dalam spektrum ini. Beberapa lebih nyaman dalam situasi sosial tertentu, sementara yang lain mungkin lebih suka berkomunikasi melalui media yang lebih terstruktur. Penting untuk memahami dan menghargai perbedaan ini agar dapat memberikan dukungan yang sesuai.

Sebuah studi dari International Society for Autism Research mengungkapkan bahwa ada sekitar 61,8 juta orang secara global yang menyandang autisme dalam skala yang bervariasi. Variasi yang luas dalam spektrum ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.

4. Komunikasi Verbal dan Non-Verbal

Penyandang autisme bisa jadi lebih cenderung menggunakan cara komunikasi non-verbal atau lebih suka berbicara dengan lebih sistematis. Pemahaman akan cara-cara ini sangat penting agar mereka bisa lebih mudah berinteraksi dengan orang di sekitar mereka. Misalnya, beberapa individu mungkin lebih nyaman berkomunikasi melalui tulisan atau gambar daripada percakapan lisan.

Penelitian dari Princeton University menunjukkan bahwa banyak individu dengan autisme mengalami kesulitan dalam komunikasi verbal, sehingga mereka mengandalkan bahasa tubuh atau komunikasi berbasis visual. Memahami preferensi ini dapat membantu dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung perkembangan mereka.

5. Stigma yang Salah: Autisme dan Kecerdasan Rendah

Stigma yang mengaitkan autisme dengan kecerdasan rendah sudah banyak tersebar luas. Padahal, banyak penyandang autisme yang memiliki IQ di atas rata-rata dan berprestasi di berbagai bidang, seperti sains, teknologi, seni, dan matematika. Mereka mungkin memiliki cara belajar dan berpikir yang berbeda, namun itu tidak berarti mereka kurang cerdas.

Sebuah studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa sekitar 45 persen penyandang autisme memiliki IQ di atas rata-rata, dan beberapa dari mereka berprestasi luar biasa di bidang yang mereka tekuni. Hal ini menegaskan bahwa autisme tidak berhubungan langsung dengan kecerdasan rendah, dan penting untuk menghilangkan stigma tersebut.

6. Keahlian Khusus Penyandang Autisme

Sumber: nmih