Ladu, Jajanan Khas Kota Batu yang Selalu Hadir Saat Lebaran

Ladu, Jajanan Khas Kota Batu yang Selalu Hadir Saat Lebaran

Ladu, salah satu jajanan khas Kota Batu yang disediakan selama Ramadan dan Idulfitri--Oleh-oleh Khas Batu

BATU, DISWAYMALANG.ID-- Ladu, jajanan khas Kota Batu, menjadi salah satu kuliner tradisional yang selalu hadir saat bulan Ramadan hingga Lebaran

Kudapan ini masih dapat ditemui di Desa Gunungsari, yang terletak di kaki Bukit Banyak Paralayang, Kota Batu.

Menjelang Ramadan, hampir setiap rumah di desa ini membuat ladu dan menyediakannya dalam toples di meja makan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi pembuatan ladu mulai berkurang.

Menurut cerita turun-temurun, nama "Ladu" merupakan akronim dari "Langgeng Seduluran" dalam bahasa Jawa, yang berarti persaudaraan abadi. 

Makna ini menjadikan ladu sebagai simbol penyambung tali silaturahmi, sehingga selalu identik dengan Ramadan dan Idul Fitri.

Ladu dibuat dari adonan beras ketan dan gula pasir yang diolah secara tradisional dengan cara ditumbuk. 

Setelah adonan siap, proses selanjutnya adalah menjemur hingga kering sebelum akhirnya dipanggang sampai matang. 

Bentuknya menyerupai keripik kulit yang menggelembung, namun memiliki rasa manis dengan tekstur yang renyah di luar dan lembut di dalam.

Ratih Rohaili, salah satu pembuat ladu di Desa Gunungsari, mengatakan bahwa jajanan ini telah menjadi tradisi di desanya sejak dulu. 

"Ladu sudah jadi kayak tradisi di sini sejak dulu, apalagi menjelang Lebaran tiba," ujarnya.

Ratih dan suaminya merupakan generasi penerus yang masih mempertahankan usaha pembuatan ladu. Bersama enam orang tetangganya, ia rutin memproduksi ladu setiap hari untuk memenuhi pesanan dari pelanggan dan toko oleh-oleh.

Dalam sehari, Ratih bisa memproduksi hingga 50 kilogram atau sekitar 200 bungkus ladu saat pesanan sedang ramai. Produk ladunya banyak dikirim ke berbagai daerah, seperti Malang Raya, Sidoarjo, hingga Jombang.

Untuk menghasilkan ladu berkualitas, Ratih tetap menggunakan resep turun-temurun dari nenek buyutnya. 

Sumber: tazqia disway