Vape Lebih Aman dari Rokok? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Paru

Vape Lebih Aman dari Rokok? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Paru

Ilustrasi bahaya penggunaan vape--istockphoto/chanakon laorob

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Di tengah popularitas vape atau rokok elektrik sebagai alternatif rokok konvensional, banyak yang percaya bahwa vape adalah pilihan lebih sehat. Namun, apakah klaim ini benar? 

Sebaliknya, berbagai ahli justru menyebutkan bahwa vape dan rokok sama-sama memiliki risiko kesehatan yang serius, bahkan risiko mematikan.

Melansir dari Kompas.com, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Agus Dwi Susanti, SpP(K), menegaskan bahwa baik vape maupun rokok tradisional sama-sama berbahaya bagi tubuh. Meskipun vape tidak mengandung tar, penggunaannya tetap melibatkan bahan kimia berbahaya seperti nikotin dan karsinogen, yang berpotensi merusak paru-paru.

“Jadi tidak benar kalau rokok elektronik lebih aman karena mereka sama-sama ada kandungan ini. Meskipun tidak mengandung tar, ternyata rokok elektronik itu ada bahan karsinogen,” jelas dr. Agus.

Bahaya yang Mengintai 

Penggunaan vape tidak hanya memicu ketergantungan, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Dokter Agus mengungkapkan bahwa dampak penggunaan vape meliputi bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), pneumonia, kanker paru-paru, hingga pneumonitis, yaitu peradangan akut pada paru-paru.

“Kalau kita lihat secara keseluruhan dampaknya (vape) pada paru mulai dari iritasi, gejala pernapasan, bronkitis, asma, PPOK, pneumonia, paru-paru bocor, kanker paru, pneumonitis, dan EVALI (e-cigarette or vaping use-associated lung injury) yang akut menyebabkan sesak napas tiba-tiba,” tambahnya.

Pengalaman dari Kisah Nyata 

Dr. Agus juga berbagi pengalaman menangani pasien-pasien yang menderita akibat penggunaan vape. Salah satunya adalah seorang pria berusia 23 tahun yang pada tahun 2019 mendadak mengalami sesak napas selama tiga hari. 

Meski sebelumnya sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti tuberkulosis (TBC) atau asma, paru-paru pasien tersebut bocor akibat kebiasaan menghisap vape selama satu tahun.

“Pasien saya laki-laki, 23 tahun, sesak napas tiga hari. Tidak ada riwayat TB, tidak ada riwayat asma. Dia menggunakan vaping 1 tahun terakhir dengan 50 hisap per hari. Saat datang ke rumah sakit, terjadi paru-parunya bocor,” ungkapnya.

Kasus lain melibatkan seorang remaja 18 tahun yang menderita radang paru setelah menggunakan vape selama tiga bulan. Meski kondisinya pulih setelah menjalani perawatan dan terapi antibiotik, pengalaman ini menunjukkan risiko kesehatan serius yang dapat ditimbulkan oleh vape.

“Jadi dia mengalami radang paru setelah tiga bulan menggunakan vape. Kemudian diminta untuk berhenti, diberi antibiotik, rawat jalan, dan akhirnya sembuh,” tambah dr. Agus.

Risiko Jangka Panjang Vape dan Rokok

Sumber: grid.id