IDULFITRI: Makna Personal dan Sosial
-Orang yang ber-Lebaran belum tentu orang yang ber-Idulfitri. Sebab Idulfitri berarti kembali pada kesucian, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. -INSTAGRAM-
SEBULAN lamanya umat Islam telah melaksanakan ibadah puasa. Pelaksanaan ibadah puasa itu sungguh merupakan tugas yang berat karena kita bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, namun harus menahan dan mengontrol nafsu-nafsu kita yang lain.
Selama satu bulan penuh kita telah melatih hati dan pikiran kita untuk senantiasa menahan emosi dan bersikap sabar. Kita telah melatih jiwa untuk menamamkan semangat sosial dengan kita banyak bersedekah dan berinfaq.
Dan kita telah berupaya meningkatkan kadar iman kita dengan banyak melaksanakan ibadah-ibadah sunnah seperti salat tarawih dan tadarus membaca Alquran.
BACA JUGA:Pemerintah Resmi Umumkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
Dan sekarang sampailah kita pada saat yang dinantikan, hari bahagia yang penuh berkah dan ampunan Allah Swt, yaitu Idulfitri. Mengapa hari ini disebut sebagai Idulfitri? Apakah Idulfitri itu?
Esensi Idulfitri

Ilustrasi rangkaian kegiatan salat Idul Fitri. Orang yang berpuasa pada bulan Ramadan tetapi tidak didasari keimanan kepada Allah Swt dan apalagi orang-orang yang tidak berpuasa, tidak berhak mendapatkan janji Allah berupa Idulfitri. -dok. disway jateng--
Memasuki bulan Syawal umat Islam merayakannya dengan kegembiraan dengan ciri-ciri zahir yang serbabaru, pakaian baru, baju baru, sarung baru, songkok baru, cat rumah baru, pagar rumah baru, bahkan kendaraan baru, membuat masakan yang spesial, ketupat lontang, kue dan lain-lain. Itulah tanda-tanda orang yang ber-Lebaran. Dan ini bisa dilakukan oleh semua orang dan semua orang bisa bersenang-senang dalam Lebaran itu.
Tetapi apakah orang-orang yang ber-Lebaran itu berarti juga ber-Idulfitri? Orang yang ber-Lebaran belum tentu orang yang ber-Idulfitri. Sebab Idulfitri berarti kembali pada kesucian, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Nah, janji Allah untuk mengembalikan orang pada keadaan fitrahnya ini tidak diberikan kepada semua orang.
BACA JUGA:Ribuan Warga Malang Salat Id Pagi Tadi, 19 Maret 2026, Ikuti Rukyat Hilal Global
Lalu, kalau begitu, siapa yang mendapatkan janji Allah berupa Idulfitri itu? Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya mengatakan, “Bulan Ramadan adalah bulan yang Allah mewajibkan puasa dan Aku sunnatkan qiayamullail kepadamu. Barang siapa yang berpuasa dan melakukan qiyamullail karena iman dan mengharap rahmat Allah, maka dosanya akan bersih seperti saat dilahirkan ibunya.”
Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D, penulis. -dok. pribadi--
Dari sabda Rasulullah tersebut jelas bahwa yang berhak mendapatkan predikat Idulfitri adalah orang-orang yang berpuasa dan melakukan qiyamullail di bulan Ramadan yang dilandasi oleh iman dan pengharapan atas rahmat Allah Swt. Dengan demikian, orang yang berpuasa di bulan Ramadan tetapi tidak didasari oleh keimanan kepada Allah Swt dan apalagi orang-orang yang tidak berpuasa, maka mereka tidak berhak mendapatkan janji Allah berupa Idulfitri.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdil Qadir Qudsi al-Makki asy-Syafi’i dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur mengungkapkan, “Bukanlah disebut Id bagi orang yang mengenakan pakaian baru, sesungguhnya Id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan setiap harinya tiada maksiat”.
BACA JUGA:Masjd Ainul Yaqin Unisma Gelar Salat Idul Fitri 1447 H, Ajak Umat Sambut Hari Kemenangan
Sumber:
